Monday, June 30, 2014

Mencegah Kesurupan Jin pada Manusia

Kesurupan adalah kejadian masuknya mahluk Jin kedalam tubuh manusia baik secara total maupun separuh badan. Pada kasus masuk separuh badan biasanya yang bersangkutan masih sadar dan mengetahui apa yang telah diucapkan atau dilakukannya, hanya saja ia tidak mempunyai kendali atas ucapan dan tindakannya itu. Pada kasus masuk keseluruh tubuh secara total biasanya yang bersangkutan tidak tahu dan menyadari apa yang diucapkan dan diperbuat oleh dirinya. Kasus masuk separuh badan biasanya dilakukan oleh Jin yang bersahabat, dalam rangka menjaga diri atau anak cucu dari manusia yang menjadi sahabatnya. Jin yang bersahabat ini biasanya hanya memberi nasihat, atau saran penyelesaian suatu masalah dan tidak pernah membuat onar.

Kasus kesurupan total biasanya terjadi akibat kemarahan jin yang merasa habitatnya terganggu oleh ulah orang tersebut, atau Jin yang sengaja dikirim oleh pawang, dukun atau para normal dengan niat tertentu. Kesurupan total juga bisa terjadi atas permintaan yang bersangkutan , yang memang meminta kehadiran mahluk ghaib, atau kekuatan benda tertentu didalam dirinya, contohnya pada permainan kuda kepang.

Kasus kesurupan masal yang banyak terjadi pada dewasa ini umumnya terjadi akibat kemarahan Jin yang tidak senang karenanya habitatnya terganggu. Misalnya akibat penebangan pohon atau pembongkaran bangunan tua tempat tinggal mereka selama ini. Tekanan hidup, pelajaran sekolah yang menumpuk , ditambah tayangan film tentang hantu, kuntilanak , dunia lain ditelevisi menyebabkan jiwa anak anak menjadi labil dan sugestif terhadap hal yang berbau mistik. Kondisi ini memudahkan Jin untuk masuk kedalam tubuh orang yang bersangkutan  melakukan unjuk rasa, menyatakan ketidak senangannya atas gangguan yang dialami oleh habitatnya.

Untuk menghindari kasus kesurupan paling mudah adalah dengan menghindarkan berbagai hal yang

dapat menyebabkan timbulnya kasus kesurupan sebagaimana telah disebutkan diatas. Para pakar kesehatan mengatakan mencegah penyakit lebih baik dan lebih murah biayanya daripada mengobati penyakit. Demikian pula dalam kasus kesurupan, mencegah terjadinya kesurupan lebih baik dari pada mengobati mereka yang sudah terkena kesurupan atau dirasuki Jin.

Menyembuhkan atau mengobati orang yang kerasukan Jin apalagi Jin yang sengaja dikirim oleh pawang, dukun atau paranormal untuk mendatangkan penyakit bukanlah hal yang mudah. Dibutuhkan kemauan yang kuat dari yang bersangkutan , keluarga dan  ditambah keahlian dan keterampilan orang yang berusaha mengobati kasus tersebut.

Bagi mereka yang belum terlanjur sebaiknya hindari bersahabat dengan mahluk Jin, kita tidak bisa melihat Jin sedang mereka bisa melihat kita, hal ini menyebabkan kita tidak bisa mengetahui hakekat sebenarnya dari Jin yang mengaku sebagai sahabat itu. Bagi yang mendapatkan warisan persahabatan dari nenek moyangnya hati hati dan waspadalah, informasi yang diterima dari golongan Jin jangan diterima secara mutlak dan membabi buta, gunakan akal dan fikiran sehat untuk menelaahnya.

Hindari menyimpan benda pusaka apapun seperti keris, cincin, gelang, azimat, atau benda keramat lainnya. Jin yang ada  pada benda pusaka itu akan mempengaruhi diri atau anggota keluarga yang lemah. Jika ada hal yang tidak menyenangkan mereka , Jin tersebut bisa berunjuk rasa dengan memasuki tubuh salah seorang anggota keluarga. Jika dirumah atau pada diri anda ada benda pusaka seperti dimaksud diatas yang didapat dari warisan , diberikan orang atau anda pernah berguru suatu ilmu kanuragan  musnahkanlah benda tersebut. Bertakwalah hanya pada Allah, jangan mempersekutukan Allah dengan apapun. Benda tersebut hanya akan membawa mudharat bagi anda dan keluarga anda.

Jika melintas didaerah yang tidak dikenal atau tidak ada penghuninya seperti rimba belantara, gurun pasir, sungai , gua , pantai dan berada ditengah laut, selalu berdzikir dan minta perlindungan pada  Allah dari kejahatan mahluk Jin dan syetan yang mungkin datang mengganggu. Berlaku tawadhu, sopan dan jangan ugal ugalan didaerah tersebut, insya Allah selamat dari kejahatan berbagai mahluk yang ada didaerah itu. (MM) baca artikel terbaik lainnya

Penyebab Gangguan Jin pada Manusia

Jin juga seperti manusia terdiri atas berbagai bangsa, suku, golongan dan  kelompok. Ada yang baik ada pula yang buruk, ada yang saleh , beriman, bertakwa adapula yang kafir , munafik dan berperilaku buruk. Jin yang saleh dan baik biasanya tidak suka usil mengganggu manusia, namun Jin kafir dan berperilaku buruk sering mengganggu kehidupan manusia. Jin bisa masuk dan melakukan interfensi terhadap kehidupan manusia oleh beberapa sebab antara lain:

1. Pengaruh keturunan

Dimasa lalu mungkin ayah, nenek atau uyut yang bersangkutan pernah bersahabat atau memelihara teman dari golongan Jin. Karena umumnya Jin usianya jauh lebih panjang dari manusia bisa mencapai ratusan tahun, diantara Jin tersebut ada yang masih ingin melanjutkan persahabatannya dengan keturunan orang tersebut. Jin tersebut berusaha memperkenalkan diri pada anak cucu orang yang pernah menjadi sahabatnya. Bagi keluarga yang tidak siap hal ini kadang kala dirasakan sebagai gangguan. Gejalanya terlihat pada anak anak yang kadang kala sering terlihat bermain atau bercakap cakap dengan seseorang yang ujudnya tidak terlihat.

2. Pengaruh benda pusaka

Diantara Jin ada yang mendiami benda pusaka seperti keris, bantu cincin, gelang, atau azimat. Seseorang yang mendapat titipan atau menyimpan benda pusaka tersebut baik disengaja atau tidak disengaja, akan selalu diikuti oleh Jin penunggu benda pusaka tersebut. Jin tersebut akan memberi pengaruh pada perilaku orang yang menyimpan benda pusaka itu. Pengaruhnya bisa positip bisa juga negatip tergantung watak Jin yang menghuni benda pusaka tersebut. Jin yang menghuni pusaka itu bisa saja menjadi pengganggu bagi orang yang menyimpan pusaka tersebut jika ia merasa tidak puas dengan perawatan atau cara penyimpanan pusaka dari orang yang bersangkutan.

3. Tanpa sengaja mengganggu kediaman Jin

Umumnya Jin mendiami tempat yang jarang bahkan tidak dihuni oleh manusia, seperti Gurun pasir, lautan, sungai sungai, gua-gua, Rimba belantara, Rumah atau bangunan kosong dan lain sebagainya. Dalam perjalanan didaerah yang tidak berpenghuni tersebut adakalanya manusia memasuki kawasan yang didiami Jin dan melakukan tindakan atau perbuatan yang tidak menyenangkan kelompok Jin tersebut. Misalnya buang air kecil, memotong atau menebang pohon yang dihuni kelompok Jin, berteriak atau berlaku tidak sopan ditengah rimba dan lain sebagainya. Jin yang merasa tidak senang dengan perbuatan orang tersebut akan berusaha menyerang bahkan merasuk kedalam tubuh orang tersebut.

4. Diminta datang dan hadir oleh yang bersangkutan

Jin bisa hadir dan merasuk kedalam jasad seseorang atas permintaan yang bersangkutan. Dengan membaca mantra , atau memanggil nama Jin yang bersangkutan Jin akan datang pada orang tersebut. Jin bisa juga hadir atas permintaan yang tidak disadari. Misalnya seseorang meminta pertolongan , atau bantuan pada penjaga lembah, Gunung,  Pohon , arwah leluhur, atau benda  tertentu , seruan dan panggilan tersebut akan mengundang kedatangan Jin padanya. Adakalanya Jin tersebut masuk kedalam tubuh orang yang bersangkutan. Kasus ini bisa kita lihat pada permainan kuda kepang.

5. Didatangkan atau dihadirkan oleh pawang atau orang yang ahli

Jin bisa juga dihadirkan merasuk kedalam tubuh seseorang atas perintah dan permintaan dari pawang yang menguasai Jin. Orang yang jiwanya lemah dan labil bisa dimasuki oleh Jin yang disuruh oleh orang lain  dengan mudah. Namun orang yang mempunyai kepribadian kuat dan biasa melakukan dzikir serta taat beribadah pada Allah,sangat sulit bahkan tidak bisa dimasuki oleh Jin yang disuruh oleh orang lain tersebut. Jin yang datang atas permintaan pawang ini biasanya mempunyai misi khusus, misalnya untuk membuat kekacauan, menimbulkan rasa sakit (santet, teluh) atau sebaliknya ditugaskan untuk melindungi atau menyembuhkan penyakit orang yang bersangkutan. (MM) baca artikel terbaik lainnya

Ciri-ciri Gangguan Jin dan Sihir pada Manusia

Ada beberapa ciri  atau tanda tanda gangguan jin dan sihir pada manusia , periksalah apakah tanda tanda tersebut ada pada diri kita masing masing. Jika sebagian atau beberapa tanda itu ada pada diri kita patut dicurigai bahwa diri kita sedang mengalami gangguan jin atau sihir.

Tanda tanda pada waktu terjaga (sadar)

1. EMOSI TINGGI dan tidak terkendali (Istri membantah suami atau anak membantah sama ibu, suami yang sering memaki istri karena hal kecil).

2. Sering RAGU, WAS WAS & KETAKUTAN tanpa sebab yang jelas.

3. Adanya dorongan kuat untuk melakukan perbuatan maksiat yang berulang-ulang disertai kemalasan dan kelesuan luarbiasa untuk melakukan shalat dan ibadah lain.

4. Sulit KHUSYUK dalam mengerjakan sholat, dan LUPA rakaat shalat.

5. SESAK NAFAS dan ngantuk berat saat membaca Al Quran (tidak bisa baca lebih dari 30 Ayat atau tenggorokan yang terhenti sama sekali, bahkan tertidur saat baru buka mushaf).

6. MELEMAHNYA HATI, MINDER, suka menghayal/melamun, menyendiri dan mengurung diri dikamar secara berlebihan atau mengasingkan diri dari sosial.

7. SAKIT MENAHUN; semisal pusing dikepala, mendengung ditelinga, pegal di bahu, belikat dan paha, sakit gigi, mata, tenggorokan, lambung dan dada sesak tanpa sebab yang jelas.

8. Memandang remeh kegiatan ibadah dan lupa atau malas dzikrullah.

9. DEPRESI dan pikiran linglung, merasa sedih, kecewa, jantung berdebar-debar keras.

10. Sering KESURUPAN baik separuh ingatan atau secara total.

11. Sering mendengar bisikan memanggil namanya sendiri, merasa ada yang mengajak bicara, mendengar bisikan menyuruh sesuatu kejahatan semisal; membunuh, memperkosa, memukul, meloncat dari tempat yang tinggi, terjun kesungai atau jurang, menabrakan diri dll.

12. PARANOID dan cemas, merasa bersalah terus, merasa ada yang mengikuti, mengejar dan mengancam akan membunuh.

13. Sering MENCIUM BAU–bauan wangi kembang atau dupa, bau anyir atau busuk (bangkai) yang tidak terlihat sumber baunya.

14. Pusing berlebih (VERTIGO) dan melihat benda benda seakan bergerak, berputar, terbalik , miring dan lain sebagainya.

15. Melakukan tindakan-tindakan aneh tanpa disadari atau diluar kendali atau seperti ada yang mengendalikan dan tidak bisa menahan dalam kondisi sadar sekalipun.

16. Memiliki kemampuan supranatural semisal tiba-tiba dapat meramal, menerawang, membaca fikiran orang lain atau mengetahui peristiwa yang akan terjadi.

17. Melihat atau merasakan keberadaan mahluk halus baik sekilas atau jelas.

18. Rasa sakit disalah satu anggota badan yang tidak terdeteksi dokter atau sakit menahun yang tidak ditemukan solusinya dalam dunia medis

19. Sering merasakan sakit saat-saat tertentu saja, misalnya datangnya gangguan mulai waktu asyar, magrib, tengah malam, matahari terbit dan sebagainya .

20. Selalu menemui kegagalan dalam menjalankan usaha bisnis dan perjodohan . Sepeti ada yang menghalangi dan  menutup pintu rezeki serta jodoh.

Tanda tanda ketika tidur

21. Susah tidur (insomnia), gelisah, cemas dan sering terbangun dimalam hari. Dalam kondisi parah biasanya baru bisa tidur jam 3 pagi atau tidak tidur sama-sekali berhari-hari.

22. Susah bangun dan banyak tidur sehingga tidak bisa melakukan ibadah yang diinginkan.

23. Tindihan (mimpi seakan akan dihimpit benda yang berat dan sulit untuk melepaskan diri dari himpitan tersebut) atau mimpi melihat sesuatu yang mengancam dan menakutkan, seperti ingin berteriak minta tolong namun tidak bisa.

24. Mimpi melihat berbagai binatang menyeramkan semisal ular, ulat, anjing, tikus besar, serigala, harimau dll.

25. Sering ngigau, tertawa, menangis, berteriak, mengomel, merintih atau bahkan jalan-jalan pada saat tidur (kondisi mata tertutup).

26. Mimpi seolah-olah jatuh dari tempat yang tinggi dan semua yang berkaitan dengan tempat tinggi; seperti mendaki tempat yang tinggi.

27. Semua mimpi tentang kuburan; melihat kuburan, melihat proses penguburan, menguburkan, dikuburkan, atau duduk-duduk dikuburan, tempat sampah atau jalan dan lingkungan yang seram dan mengerikan.

yang dialami dalam mimpi tersebut.

28. Mimpi melihat orang yang aneh seperti tinggi sekali, pendek sekali, putih sekali atau hitam sekali.

29. Mendengkur dengan keras (seperti harimau, dsb), mimpi-mimpi yang seram dan mengerikan.

30. Mimpi bertemu dengan orang yang sama (laki/perempuan) berkali-kali dan ingin bertemu dengan orang yang dimimpikan tersebut (mahabbah/pelet).

31. Mimpi melihat atau bertemu keluarga yang sudah meninggal, melihat mayat, mimpi mati, mimpi berbicara dengan orang yang mati dan semua mimpi yang berhubungan dengan kematian.

32. Mimpi melihat suatu peristiwa dan keesokan harinya mengalami peristiwa persis seperti

Tanda tanda lainnya

33. Gejala Tipes,Tubuh seperti terbakar atau terpanggang api panas namun ketika di ceck temperatur tubuh normal.

34. Kecelakaan Kendaraan.Untuk mensukseskan keinginannya, kadang jin melakukan segala cara termasuk membuat orang ngantuk dijalan atau bahkan menggerakan tangan manusia yang dirasukinya hingga terjadi kecelakaan. Sering terjadi saat orang mau pergi ke peruqyah atau belajar ruqyah.

35. Impotensi. Sering terjadi pada mantan praktisi ilmu hitam; dukun, berbagai ilmu tenaga dalam, amalan wirid overdosis (ribuan/malam) dll. Atau terjadi karena kedzaliman jin baik karena disuruh penyihir atau maksud tertentu jin..

36. Mandul  Jin bersarang di rahim dan menghalangi sel telur yang masuk ke rahim, atau bahkan sampai memakan setiap janin yang sudah jadi (dari pengakuan jin).

37. Kista/Mium.  Untuk membedakan penyakit kista medis atau sihir, kita bisa membacakan ayat ruqyah ditangan dan meletakannya diperut. Jika terasa hangat atau panas, maka geser keatas. Jika penyakit pindah maka itu adalah kista dari sihir.

38. VicTor (Fikiran yang kotor)
Jin kadang bersarang dikemaluan (laki-laki) dan dada (berupa hawa panas, bagi perempuan) dan membuat fikirannya kotor saat melihat lawan jenisnya. Memunculkan semua sifat jelek hingga ia menjadi sampah masyarakat.

39. Jomblo Menahun. Sulit menikah, sulit dapat jodoh yang cocok, tidak mau menikah, atau selalu melihat calon suami/istri tiba-tiba menjadi mengerikan hingga akad yang direncanakan bubar. (MM) baca artikel terbaik lainnya

Sunday, June 29, 2014

Media Pembelajaran Pohon Perkalian

Media berasal dari bahasa Latin merupakan bentuk jamak dari  “medium” yang secara harfiah berarti perantara atau pengantar, yaitu perantara atau pengantar sumber pesan dengan penerima pesan (Sudrajat, 2008:1).
Menurut Purnamawati dan Eldarni (dalam Kusumah, 2008:1), media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan minat siswa sedemikian rupa sehingga terjadi proses belajar.
Sejalan dengan pendapat Suyatno (2008:2-11) yang mengemukakan bahwa media adalah alat komunikasi yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran untuk membawa informasi berupa materi ajar dari pengajar kepada peserta didik sehingga peserta didik menjadi lebih tertarik untuk mengikuti kegiatan pembelajaran.
Sadiman (2001:7) mengemukakan bahwa media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang fikiran, perasaan, perhatian dan minat serta perhatian siswa sedemikian rupa sehingga proses belajar dapat terjadi. Pesan yang dimaksud adalah materi pelajaran yang diberikan guru kepada siswa sehingga siswa termotivasi untuk menerima materi pelajaran.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa media merupakan alat perantara untuk menyampaikan ide, pesan dan gagasan. Pesan ini berupa materi pelajaran dari pengirim (guru) kepada penerima pesan (siswa). Karena fikiran, perasaan, perhatian dan minat serta perhatian siswa dapat terangsang sedemikian rupa sehingga proses belajar dapat terjadi.
Brown (dalam Sudrajat, 2008:1) mengungkapkan bahwa media pembelajaran yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran dapat mempengaruhi terhadap efektivitas pembelajaran. Sehingga, seorang guru sebagai sumber belajar seharusnya menyediakan beraneka ragam benda sebagai media instruksional dalam setiap pembelajaran, termasuk pembelajaran Matematika siswa kelas IV yang rata-rata berumur 10-11 tahun karena dalam periode ini termasuk periode konkret. Dengan media konkret, siswa tidak berfikir abstrak lagi dan siswa dapat memahami konsep lebih cepat.
Sikhabuden (dalam Sutarti, 2009:34) mengemukakan tentang prinsip umum yang digunakan sebagai dasar pertimbangan dalam memilih media pembelajaran matematika, di antaranya adalah tujuan, efektifitas, siswa, ketersediaan dan biaya pengadaan. Berikut penjelasan dari prinsip-prinsip dalam memilih media pembelajaran matematika:
1. Tujuan
Media yang akan dipilih hendaknya dapat menunjang pencapaian tujuan pendidikan/ pengajaran yang telah ditetapkan sebelumnya. Sehingga media yang digunakan harus sesuai dengan tujuan pembelajaran. Agar siswa tidak rancuh dalam menerima konsep matematika. Konsep matematika yang diterima siswa harus sama dengan konsep yang diberikan guru.
2. Efektifitas
Dari beberapa alternatif media yang sudah dipilih, mana yang dianggap paling “efektif” untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Artinya media yang digunakan harus disesuaikan dengan materi yang akan diajarkan.
3. Siswa
Apakah media yang dipilih sesuai dengan kemampuan, perbendaharaan pengalaman dan menarik perhatian siswa. Karena banyak media yang diperuntukkan masing-masing usia. Media bagi siswa kelas I tentunya berbeda dengan kelas VI.
4. Ketersediaan
Ketersediaan media ada beberapa alternatif yang dapat diambil yaitu membuat, membeli atau mendapat droppingan dari pemerintah. Seorang guru harus pandai dalam membuat media, tetapi dapat juga dengan membeli bahkan mendapatkan bantuan dari pemerintah. Tetapi, guru yang kreatif tidak menggantung  kepada pemerintah, yaitu membuat media sendiri.
5. Biaya Pengadaan
Bila memerlukan biaya untuk pengadaan media, apakah sudah tersedia biaya? Apakah biaya yang dikeluarkan seimbang dengan manfaat dan hasil penggunaanya? Adakah media lain yang mungkin lebih murah, tetapi memiliki efektifitas yang setara? Dalam membuat media, seorang guru harus memiliki prinsip pengeluaran seminimal mungkin untuk mencapai tujuan semaksimal mungkin.
Ada lima jenis media pembelajaran menurur Nugraha (2008:3-4), yaitu sebagai berikut:
1.Media nonproyeksi; meliputi:
a. Model, yaitu benda nyata yang dimodifikasikan.
b. Bahan grafis, yaitu media visual nonproyeksi yang mudah digunakan karena tidak membutuhkan peralatan dan relatif murah.
2. Media yang diproyeksikan; meliputi:
a. OHT (overhead transparansi), yaitu media yang paling banyak digunakan karena hanya membutuhkan bahan transparansi dan alat tulis.
b. Slide, yaitu media visual yang penggunaannya diproyeksikan ke layar lebar.
3. Media audio, yaitu media yang fleksibel karena bentuknya yang mudah dibawa, praktis, dan relatif murah (misal tape compo, pengeras suara).
4. Media video. Media ini digunakan sebagai alat bantu mengajar pada berbagai bidang studi.
5. Media berbasis komputer. Media ini dapat meningkatkan efektivitas proses pembelajaran yang sangat tinggi karena terjadi interaksi langsung antara siswa dengan materi pembelajaran.
Dari kelima jenis media pembelajaran di atas, media pembelajaran Pohon Perkalian tergolong sebagai media nonproyeksi yang berupa model, karena pada media pembelajaran Pohon Perkalian memiliki ruangan berupa gelas Aqua yang diistilahkan sebagai buah dari pohon. Media pembelajaran ini dapat digambarkan berupa pohon-pohonan yang rimbun. Pohon-pohonan itu memiliki buah yang didalamnya terdapat isi dari buah tersebut. Pohon-pohonan itu juga dapat berupa lukisan pohon yang rimbun pada papan styrofoam berukuran 1 m x 1 m dan sudah diwarna seperti pohon. Buah dari pohon tersebut dapat berupa gelas minuman yang sudah bekas. Isi dari buah dapat berupa kelereng.
Cara menggunakan media pembelajaran Pohon Perkalian tersebut adalah misalnya dalam mengerjakan soal berikut:
1. 2 x 7 = … Siswa memasukkan 7 buah kelereng ke dalam 2 gelas minuman yang sudah bekas.
2. 7 x 2 = … Siswa memasukkan 2 buah kelereng ke dalam 7 gelas minuman yang sudah bekas. (MM) baca artikel terbaik lainnya

Menerapkan Sistem Belajar Tuntas di Kelas

Suatu pembelajaran di kelas dikatakan melaksanakan pembelajaran tuntas jika terdapat indikator-indikator sebagai berikut:
1. Metode pembelajaran yang dipakai adalah pendekatan diagnostik preskriptif
Maksudnya adalah pendekatan individual dalam arti meskipun kegiatan belajar ditujukan kepada kelompok siswa (kelas), tetapi mengakui dan melayani perbedaan-perbedaan perorangan siswa sedemikian rupa, sehingga pembelajaran memungkinkan berkembangnya potensi masing-masing siswa secara optimal.
2. Peran guru harus intensif dalam mendorong keberhasilan siswa secara individual.
Hal-hal yang dapat dilakukan oleh guru, misalnya sebagai berikut:
a. Menjabarkan/memecah KID ke dalam satuan-satuan yang lebih kecil.
b. Menata indicator berdasarkan cakupan serta urutan unit.
c. Menyajikan materi dalam bentuk yang bervariasi.
d. Memonitor seluruh pekerjaan siswa.
e. Menilai perkembangan siswa dalam pencapaian kompetensi.
f. Menyediakan sejumlah alternatif strategi pembelajaran bagi siswa yang menjumpai kesulitan.
3. Peran siswa lebih leluasa dalam menentukan jumlah waktu belajar yang diperlukan.
Artinya siswa diberikan kebebasan dalam menetapkan kecepatan pencapaian kompetensi. Kemajuan siswa sangat tertumpu pada usaha serta ketekunan siswa secara individual.
4. Sistem penilaian menggunakan penilaian berkelanjutan yang siri-sirinya adalah:
a. Penilaian dengan system blok.
b. Tiap blok terdiri dari satu atau lebih kompetensi dasar (KD).
c. Hasil penilaian dianalasis dan ditindaklanjuti melalui program remedial, program pengayaan, dan program percepatan.
d. Penilaian mencakup aspek kognitif dan psikomotor.
e. Aspek afektif dinilai melalui pengamatan dan kuesioner.

Motivasi Berprestasi
Sardiman (1987:73) menyatakan bahwa motivasi dapat diartikan sebagai suatu kondisi intern (kesiapsiagaan atau daya penggerak yang telah menjadi aktif.
Sedangkan Wijaya (1979:123) menyakatan bahwa:
a. Motivasi dapat merupakan penjelmaan dari suatu keberhasilan.
b. Proses penggerakan adalah ntuk mengikat motif-motif menjadi perbuatan atau tingkah laku untuk memuaskan kebutuhan yang menjadi tujuan.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1997:317), motivasi adalah usaha yang dapat menyebabkan seseorang atau kelompok orang tertentu bergerak melakukan sesuatu karena ingin mencapai tujuan yang dikehendakinya atau mendapat kepuasan dengan perbuatannya. Sejalan dengan pendapat Witherington dan Filmore yang menyatakan bahwa motivasi berasal dari kata motif yang berarti bahwa tenaga yang menjadi pendorong seseorang untuk berbuat sesuatu guna mencapai suatu tujuan.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas, motivasi dapat dirangsang dari luar dan motivasi diambil dari diri seseorang dalam hal pembelajaran tuntas. Motivasi juga dapat berfungsi sebagai pendorong usaha dalam mencapai prestasi dan intensitas motivasi seorang siswa sangat menentukan tingkat prestasi belajarnya.
Sedangkan prestasi belajar adalah setiap bagian yang telah dilaksanakan sebagai hasil atau output dari suatu kegiatan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1997:314), prestasi adalah hasil yang telah dicapai untuk menunjukkan tekad sebelumya.
Menurut Prayitno (1989:11), siswa yang termotivasi secara intrinsic aktivitasnya lebih baik dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar daripada siswa yang termotivasi secara ekstrinsik. Sedangkan menurut Djiwando (1989:161), motivasi yang paling penting untuk psikologi pendidikan adalah motivasi berprestasi dimana seseorang cenderung untuk berjuang mencapai sukses atau memilih sesuatu kegiatan yang berorientasi untuk tujuan sukses atau gagal. Suryabrata (1986:74) menyatakan bahwa aktivitas-aktivitas yang didorong motivasi intrinsic ternyata lebih sukses daripada didorong oleh motivasi ekstrinsik.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa siswa yang mempuyai motivasi untuk berprestasi akan melakukan kegiatan di dalam belajar mengajar lebih baik daripada siswa yang tidak mempunyai motivasi.

Sistem Pembelajaran Tuntas dapat Menumbuhkan Motivasi Berprestasi Siswa
Sebagian telah dijelaskan sebelumnya motivasi sangat penting dalam proses belajar. Motivasi bukan saja menggerakkan tingkah laku, tetapi siswa yang termotivasi di dalam kegiatan belajar menunjukkan minat, gairah ketekunan yang tinggi di dalam belajar.
Dari pernyataan di atas menimbulkan dugaan bahwa sistem pembelajaran tuntas dapat menumbuhkan motivasi berprestasi pada dasarnya semakin obyektif. Pemberian sistem pembelajaran tuntas pada pelaksanaan kegiatan belajar mengajar semakin tinggi pula untuk motivasi berprestasi pada diri siswa.
Sistem pembelajaran tuntas dan motivasi berprestasi dalam penelitian ini dipandang sebagai hasil pendidikan yang dibina dan dikembangkan melalui proses belajar mengajar dengan pendekatan model sistem pembelajaran tuntas. (MM) baca artikel terbaik lainnya

Metode Belajar Tuntas

Metode mengajar merupakan penjabaran dari pendekatan dan diimplementasikan oleh teknik mengajar. Langkah metode mengajar yang dipilih memainkan peranan utama yang berakhir dengan semakin meningkatnya belajar siswa. Pembelajaran tuntas dalam kurikulum 2004 diartikan sebagai pendekatan dalam pembelajaran yang mempersyaratkan siswa dalam menguasai secara tuntas seluruh standar kompetensi maupun kompetensi dasar mata pelajaran.
Dalam bentuk yang paling sederhana, model pembelajaran tuntas atau Mastery Learning dari Caroll dijelaskan bahwa:
1. Jika setiap siswa diberikan waktu sesuai dengan yang diperlukan untuk mencapai suatu tingkat penguasaan dan jika dia menghabiskan waktu yang diperlukan, maka besar kemungkinan siswa akan mencapai tingkat penguasaan itu.
2. Sebaliknya, jika siswa tidak diberi cukup waktu atau dia tidak menggunakan waktu yang diperlukan, maka tingkat penguasaan kompetensi dasar juga tidak akan optimal. (Block: 1971)
Dalam pembelajaran konvensional, dimana bakat siswa (aptitude) tersebar secara normal dan kepada mereka diberikan pembelajaran yang sama dalam jumlah pembelajaran dan waktu yang tersedia untuk belajar, maka penguasaan kompetensi dasar akan tersebar secara normal pula. Dalam hal ini dapat dikatakan bahwa hubungan antara bakat dan penguasaan kompetensi adalah tinggi. Sebaliknya, apabila para siswa sehubungan dengan bakatnya tersebar secara normal dan kepada mereka diberi kesempatan belajar yang sama untuk setiap siswa, akan tetapi diberikan perlakuan yang berbeda dalam kualitas pembelajarannya, maka besar kemungkinan bahwa siswa yang dapat mencapai ketuntasan dalam penguasaan kompetensi akan bertambah banyak. Dengan demikian, hubungan antara bakat (aptitude) dengan keberhasilan dalam penguasaan kompetensi akan menjadi semakin kecil.
Berdasarkan konsep di atas, kiranya cukup jelas bahwa harapan dari proses pembelajaran dengan pendekatan pembelajaran tuntas tidak lain adalah untuk mempertinggi rata-rata prestasi siswa dalam belajar dengan memberikan kualitas pembelajaran yang lebih sesuai, bantuan, serta pemberian waktu khusus bagi siswa-siswa yang lambat agar menguasai standar kompetensi atau kompetensi dasar. Konsep tersebut menunjukkan bahwa prinsip-prinsip utama pembelajaran tuntas adalah:
1. Penguasaan kompetensi berdasar kriteria tertentu.
2. Pendekatan yang bersifat sistemik dan sistematis.
3. Pemberian bimbingan sesuai yang diperlukan.
4. Pemberian waktu yang cukup.
(Depdiknas, 2004)
Pembelajaran tuntas yang dimaksud dalam pelaksanaan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) adalah pola pembelajaran yang menggunakan prinsip ketuntasan untuk setiap siswa secara individual. Strategi ini mengandung arti bahwa meskipun kegiatan belajar ditujukan kepada kelompok siswa (kelas), tetapi mengakui dan melayani perbedaan-perbedaan perorangan siswa sedemikian rupa, sehingga dengan penerapan pembelajaran tuntas memungkinkan berkembangnya potensi masing-masing siswa secara optimal, serta akan memudahkan siswa belajar dan mencapai kompetensi berikutnya. Dasar pemikiran dari belajar tuntas dengan pendekatan individual adalah pengakuan terhadap perbedaan individual masing-masing siswa.
Untuk merealisasikan pengakuan dan pelayanan terhadap perbedaan individu, maka pembelajaran harus menggunakan strategi pembelajaran yang berasaskan maju berkelanjutan (continuous progress). Untuk standar kompetensi dan kompetensi harus dinyatakan secara jelas dan pembelajaran dipecah-pecah ke dalam satuan-satuan cremental units). Siswa belajar selangkah demi selangkah dan baru boleh beranjak mempelajari kompetensi dasar berikutnya setelah menguasai suatu/sejumlah kompetensi dasar yang ditetapkan menurut kriteria tertentu. Dalam pola ini ditentukan bahwa seorang siswa yang mempelajari unit satuan pembelajaran tertentu dapat berpindah ke unit satuan pembelajaran berikutnya sesuai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang ditentukan, misalnya 75% dari kompetensi dasar yang telah ditetapkan. (MM) baca artikel terbaik lainnya

Pengertian Guru dan Proses Pembelajaran

Pengertian Guru
Guru dapat dikaitkan dengan pendidik. Menurut Ekosusilo (1985:49), pendidik adalah orang dewasa yang bertanggungjawab di sekolah mengasuh anak-anak didik. Guru adalah orang yang bertanggung jawab di sekolah mendidik dan mengajar anak-anak didiknya.
Sejalan dengan pengertian tersebut sebagaimana dituangkan dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pendidik adalah tenaga kependidikan yang berkualifikasi sebagai guru dan berpartisipasi dalam penyelenggaraan pendidikan (PGRI, 2003:3).
Dalam Undang Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 (dalam Depdiknas, 2006:4) telah dituangkan bahwa guru adalah pendidik professional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan pendidikan menengah.
Dari berbagai pengertian guru tersebut di atas, dapat dikatakan bahwa guru adakah tenaga professional untuk melaksanakan sistem pendidikian nasional. Dengan kata lain, guru merupakan barisan terdepan dalam pelaksanaan sistem pendidikan nasional. Guru sebagai ujung tombak pelaksanaan pendidikan, maka guru diharapkan benar-benar mempu melaksanakan tugas pokok dan fungsinya (TUPOKSI). Tugas pokok dan fungsi guru meliputi:
1. Menyusun Prota.
2. Menyusun Promes.
3. Menyusun Silabus.
4. Menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP).
5. Melaksanakan analisis evaluasi hasil belajar.
6. Melaksanakan analsis hasil evaluasi pembelajaran siswa.
Sudah barang tentu di samping guru melakasanakan tugas pokok dan fungsinya tersebut, guru harus mampu dan mau menjadi suri tauladan di lingkungan sekolah maupun di luar lingkungan sekolah.

Proses Pembelajaran
Proses pembelajaran merupakan salah satu delapan standar Nasional Pendidikan (SNP), yaitu standar proses. Sebagaimana dituangkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional PendidikanBab IV pasal 19 (2005:13) yang menerangkan bahwa proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang peserta didik untuk berpartisipasi aktif serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreatifitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perembangan fisik serta psikologi peserta didik.
Bertitik tolak dari proses pembelajaran di atas, maka guru perlu memenuhi standar proses sebagaimana dipaparkan oleh Badan Akreditasi Nasional Sekolah / Madrasah (BAB S/M). Adapun paparan BAN S/M (2008:6) tentang Standar Proses mencakup:
1. RPP yang dikembangkan guru meliputi:
a. Identitas mata pelajaran
b. Standar kompetensi (SK)
c. KD dari silabus yang akan dicapai
d. Indikator pencapaiab kompetensi
e. Tujuan pembelajaran
f. Materi ajar
g. Materi ajar
h. Alokasi waktu diperlukan
i. Metode pembelajaran
j. Metode pembelajaran
k. Penilaian hasil belajar
l. Sumber belajar
Skor penilaian:
Skor 5    = Semua mapel ada RPP
Skor 4    = 7 – 9 mapel ada RPP   
Skor 3    = 4 – 6 mapel ada RPP
Skor 2    = 1 – 3 mapel ada RPP
Skor 1    = Semua mapel tanpa RPP
2. Prinsip-prinsip penyusunan RPP yaitu:
a. Memperhatikan perbedaab individusiswa.
b. Menodorong partisipasi aktif siswa.
c. Mengembangkan budaya membaca dan menulis.
d. memberikan umpan balik dan tindak lanjut.
e. Keterkaitan dan keterpaduan antara SK, KD, materi, kegiatan pembelajaran indikator pencapaian kompetensi, penilaian, dan sumber belajar.
f. Menerapkan teknologi informasi dan komunikasi.
Skor penilaian:
Skor 5    = 76 % - 100 % RPP memperhatikan 6 prinsip penyusunan
Skor 4    = 51 % - 75 %   RPP memperhatikan 6 prinsip penyusunan
Skor 3    = 26 % - 50 %   RPP memperhatikan 6 prinsip penyusunan
Skor 2    = 1 % -   25 %   RPP memperhatikan 6 prinsip penyusunan
Skor 1    = RPP tidak memperhatikan 6 prinsip penyusunan
3. Persyaratan pelaksanaan proses pembelajaran meliputi:
a. Rombongan belajar SD.MI maksimal 28 siswa.
b. Beban mengajar guru sekurang-kurangnya 24 jam tatap muka dalam satu minggu.
c. Buku teks pelajaran mengikuti ketuntasan:
1) Buku teks pelajaran yang akan digunakan oleh sekolah dipilih melalui rapat guru dengan pertimbangan komite sekolah.
2) Rasio buku teks pelajaran untuk siswa adalah 1 : 1 per mata pelajaran.
3) Selain buku teks pelajaran, guru menggunakan buku panduan guru.
Skor penilaian:
Skor 5    = Memenuhi 4 persyaratan
Skor 4    = Memenuhi 3 persyaratan
Skor 3    = Memenuhi 2 persyaratan
Skor 2    = Memenuhi 1 persyaratan
Sko1    = Semua tidak memenuhi  persyaratan
4. Pelaksanaan pembelajaran sesuai dengan langkah-langkah pembelajaran, yaitu:
a. Kegiatan pendahuluan
1) Menyiapkan siswa secara psikis dan pisik untuk mengikuti proses pembelajaran.
2) Mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mengaitkan pengetahuan sebelumnya dengan materi yang akan diplajari
3) Menjelaskan tujuan pe,mbelajaran atau kompetensi dasar yang akan dicapai
b. Kegiatan inti (eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi)
1) Eksplorasi
a) Dalam kegiatan eksplorasi, guru:
(1) Melibatkan siswa mencari informasi yang luas dan dalam tentang topik/tema materi.
(2) Menggunakan beberapa pendekatan pembelajaran, media pembelajaran.
(3) Melibatkan siswa secara aktif dalam setiap kegiatan pembelajaran.
b) Elaborasi
Dalam elaborasi, guru:
(1) Membiasakan siswa membaca dan menulis.
(2) Memfasilitasi siswa berkompetensi secara sehat.
(3) Memfasilitasi siswa melakukan kegiatan yang menumbuhkan kesanggupan rasa percaya dari siswa.
c) Komfirmasi
Dalam kegiatan konfirmasi, guru:
(1) Memberikan umpan balik positip dan penguatan dalam bentuk lisan, tulisanm isyarat, maupun hadiah terhadap keberhasilan siswa.
(2) Memberukan konfirmasi terhadap siswa untuk meperoleh pengalaman belajar yang telah dilakukan.
c. Kegiatan penutup
Dalam kegiatan penutup, guru:
1) Bersama-sama dengan siswa dan/atau sendiri membuat rangkuman.
2) Memberikan penilaian dan/atau refleksi terhadap kegiatan yang sudah dilaksanakan.
3) Menyampaikan rencana pembelajaran pada pertemuan berikutnya.
Skor penilaian :
Skor 5    = 76 % - 100 % sesuai dengan langkah-langkah pembelajaran
Skor 4    = 51 % - 75 %   sesuai dengan langkah-langkah pembelajaran
Skor 3    = 26 % - 50 %   sesuai dengan langkah-langkah pembelajaran
Skor 2    = 1 % -   25 %   sesuai dengan langkah-langkah pembelajaran
Skor 1    = semua tidak sesuai dengan langkah-langkah pembelajaran
5. Pelaksanaan pemebelajaran kelas I, II dan III
a. RPP melalui pendekatan tematik
b. Pelaksanaan melalui pendekatan tematik
Skor penilaian :
Skor 5    = 76 % - 100 % RPP dan pelaksanaan melalui pendekatan tematik
Skor 4    = 51 % - 75 %   RPP dan pelaksanaan melalui pendekatan tematik
Skor 3    = 26 % - 50 %   RPP dan pelaksanaan melalui pendekatan tematik
Skor 2    = 1 % -   25 %   RPP dan pelaksanaan melalui pendekatan tematik
Skor 1    = semua tidak melaksanaan melalui pendekatan tematik
6. Pelaksanaan pemebelajaran kelas IV, V dan VI
a. RPP melalui pendekatan mata pelajaran
b. Pelaksanaan melalui pendekatan mata pelajaran
Skor penilaian :
Skor 5    = 76 % - 100 % RPP dan pelaksanaan melalui pendekatan mapel
Skor 4    = 51 % - 75 %   RPP dan pelaksanaan melalui pendekatan mapel
Skor 3    = 26 % - 50 %   RPP dan pelaksanaan melalui pendekatan mapel
Skor 2    = 1 % -   25 %   RPP dan pelaksanaan melalui pendekatan mapel
Skor 1    = semua tidak melaksanaan melalui pendekatan mapel  (MM) baca artikel terbaik lainnya

Kemampuan Guru dalam Merencanakam Pembelajaran

Secara profesional guru dalam proses pembelajaran memiliki tugas utama, yaitu:
1. Menyusun program pengajaran.
2. Melaksanakan program pengajaran.
3. Melakukan evaluasi.
4. Melakukan analisis hasil evaluasi.
5. Melakukan program perbaikan dan pengayaan.
Di samping itu, untuk menunjang keberhasilan profesionalnya, guru juga dituntut cakap dalam aktivitas sosial dalam berinteraksi dengan lingkungannya
Sehubungan dengan tugas mengajar guru, lima kategori keterampilan mengajar yang harus dikuasai (Armstrong, Deton, dan Savage; 1978) adalah:
1. Keterampilan menspesifikasi tujuan performansi.
2. Keterampilan mendiagnosis murid.
3. Keterampilan menggunakan strategi pengajaran.
4. Keterampilan berinteraksi dengan murid.
5. Keterampilan menilai aktivitas pengajaran.
Selanjutnya, Dirjen Dikti (1988) merumuskan salah satu aspek untuk mengobservasi kemampuan guru adalah kemampuan merencanakan pembelajaran. Kemampuan merencanakan pembelajaran yang dimaksud meliputi:
1. Cara menentukan bahan pelajaran.
2. Cara memilih dan mengorganisasikan materi, media, dan sumber pelajaran.
3. Cara merancang skenario pembelajaran.
4. Cara merancang pengelolaan kelas.
5. Cara merancang prosedur.
6. Cara mempersiapkan alat evaluasi.
Untuk melaksanakan tugas, guru dituntut memiliki kemampuan tertentu yang salah satunya adalah kemampuan guru dalam merencanakan pembelajaran. Kurangnya kemampuan yang dimiliki guru dalam merencanakan pembelajaran akan mempengaruhi kinerjanya dalam melaksanakan tugas itu.
Kemampuan pertama yang harus dimiliki guru adalah kemampuan merencanakan pembelajaran. Mengajar merupakan pelaksanaan rencana pembelajaran yang telah dibuat sebelumnya. Semakin mampu merencanakan pembelajaran, seorang guru akan semakin mudah mengajar di kelas (Zuhairini dkk, 1983; Sudyana, 1984). Kemampuan merencanakan pembelajaran yang harus dimiliki oleh guru berkenaan dengan bagaimana guru menciptakan suatu sistem pembelajaran sesuai dengan yang telah direncanakan sebelumnya.
Adapun hubungan kepengawasan dengan kemampuan profesional guru dapat diterangkan sebagai berikut:
1. Dalam setiap supervisi guru, dilakukan performansi guru, karena tujuan utama supervisi adalah memberikan layanan atau membantu guru memperbaiki performennya melalui perbaikan pengajaran. Dengan demikian, melalui supervisi tersebut akan diketahui secara obyektif tentang kinerja guru dalam melaksanakan tugas-tugas profesionalnya.
2. Dalam setiap kepengawasan guru, terutama apabila ternyata performansi guru belum memadai standar performansi, maka dilakukan perbaikan performansi. Perbaikan performansi tersebut akan meningkatkan kemampuan guru dalam melakukan tugas-tugas sesuai dengan standar performansi yang diharapkan.
3. Dalam perbaikan performansi guru, selain dilakukan pembinaan kemampuan, juga dilakukan pembinaan motivasi untuk menghilangkan rasa keputus-asaan guru, kemauan anggota organisasi dalam bekerja sama untuk mencapai tujuan merupakan hal yang esensi. Kepala Sekolah sebagai pemimpin tertinggi pada tataran organisasi di sekolahnya berperan besar dalam memotivasi guru untuk mencapai misi organisasi pendidikan (Wiles, 1967). (MM) baca artikel terbaik lainnya

Teknik Supervisi Observasi Kelas

Ada sejumlah teknik supervisi yang dikemukakan oleh para ahli sesuai dengan sudut pandang dan latar belakang keilmuan mereka. Teknik-teknik supervisi nantinya diharapkan mampu memiliki dampak positif terhadap terbentuknya sikap dan kemampuan atau kinerja guru. Supervisi sebagai kegiatan pembinaan guru dapat dilakukan melalui teknik secara individual itu mencakup supervisor mengamati kegiatan belajar mengajar yang sedang berlangsung (classroom observation), eksperimentasi kelas (class experiment), guru mengunjungi guru lain saat pembelajaran berlangsung (class intervisitation), supervisor melakukan percakapan pribadi dengan guru (individual converency), seleksi mata pelajaran (selected of materials for teaching), dan evaluasi diri (self evaluation).
Mengenai teknik supervisi dapat digolongkan menjadi dua kelompok (Sahertian Piet dan Frans Mataheru, 1981), yaitu:
1.    Teknik-teknik yang bersifat kelompok, yaitu teknik yang digunakan oleh supervisor terhadap guru dalam suatu kelompok. Teknik ini penerapannya antara lain melalui:
a.    Pertemuan orientasi dan penyesuaian bagi guru-guru baru.
b.    Pertemuan dalam rapat guru, baik secara rutin maupun insidental.
c.    Tukar-menukar pengalaman (sharing) antar guru dalam sebuah pertemuan yang sudah dipersiapkan.
2.    Teknik-teknik yang bersifat individual yang penerapannya antara lain melalui:
a.    Kunjungan Kelas (Class Visitation), yaitu supervisi yang dilakukan dengan cara supervisor datang ke kelas di mana guru sedang mengajar. Kunjungan kelas terdiri dari tiga macam, yaitu kunjungan supervisor tanpa pemberitahuan kepada guru sebelumnya, kunjungan kelas dengan memberitahukan kepada guru sebelumnya, dan kunjungan atas dasar permintaan guru kepada supervisor.
b.    Observasi Kelas (Class Observation), yaitu supervisor meneliti suasana kelas selama pelajaran berlangsung, agar memperoleh data yang obyektif agar dapat digunakan untuk menganalisis kesulitan-kesulitan yang dihadapi guru dalam pelaksanaan tugas mengajarnya, baik dalam hal kegiatan guru dan siswa, penggunaan alat dan bahan pelajaran, dan lingkungan sosial dan fisik sekolah, maupun penunjang lainnya. (Sahertian Piet A dan Frans Mataheru, 1981 dalam Rifai, 1982)
c.    Percakapan Pribadi (Individual Conference), yaitu supervisor atau Kepala Sekolah bekerja sama dengan guru-guru untuk memecahkan masalah profesional guru yang dihadapi dalam PBM (Oteng Sutisna, 1985). Dengan percakapan pribadi antara guru dengan supervisor diharapkan dapat terjalin hubungan insani yang baik. Apabila hubungan ini dapat tumbuh menjadi prasyarat yang paling efektif untuk mensukseskan supervisi pengajaran di sekolah.
Observasi kelas merupakan salah satu teknik dalam supervisi. Dengan teknik ini, seorang observer (dalam hal ini tenaga Pengawas/Kepala Sekolah) meninjau, mengamati, memperhatikan dan mencatat data dan fakta, baik kuantitatif maupun kualitatif yang berkaitan secara langsung maupun tidak dengan PBM di kelas.
Melakukan pengamatan atau observasi memiliki makna tidak sekedar melihat atau mengamati aktivitas guru, melainkan lebih dari itu, yaitu dengan cara melibatkan semua indera, logika, strategi, dan instrumen yang telah divalidasi (Neagley and Evans, 1985). Hal-hal yang perlu dicatat oleh supervisor adalah:
1.    Suasana kelas.
2.    Cara memulai dan menutup pelajaran.
3.    Kecocokan metode yang dipakai dengan materi pelajaran.
4.    Penggunaan media pendidikan.
5.    Cara mengaktifkan siswa.
6.    Tugas berstruktur yang diberikan untuk menumbuhkan hasil pengirim.
7.    Perkembangan para siswa dari segi afeksi.
8.    Pemahaman siswa dari segi kognisi.
9.    Kemampuan siswa dalam segi psikomotor.
Oleh karena itu, waktu yang diperlukan oleh supervisor untuk mengobservasi dalam suatu pertemuan dibutuhkan satu sampai dengan tiga jam berturut-turut (Made Pidarta), 1999).
Hal terpenting lainnya, mengapa teknik supervisi observasi kelas dipilih untuk mensupervisi guru adalah sebagai berikut:
1. Yang diamati keseluruhan proses belajar mengajar dalam satu pertemuan, dan bukan sampel-sampel PBM yang diinginkan.
2. Untuk mengetahui aktivitas belajar mengajar secara keseluruhan, bukan untuk mengetahui aktivitas-aktivitas khusus.
3. Supervisor tidak boleh berpartisipasi dalam PBM.
4. Dilakukan pada waktu pelajaran berlangsung.
Adapun tahapan dari pelaksanaan supervisi observasi kelas adalah sebagai berikut:
1. Tahap Perencanaan Observasi
Agar observasi kelas mencapai hasil yang optimal, supervisor harus mampu:
a. Merencanakan observasi kelas.
b. Merumuskan prosedur-prosedur yang harus dilakukan.
c. Menyusun format observasi.
d. Merekam informasi tentang unjuk kerja guru dengan menggunakan format instrumen observasi.
e. Mengumpulkan hasil observasi kelas untuk keperluan melakukan langkah-langkah tindak lanjut. (Depdikbud, 1986)
Jenis atau ragam observasi juga sebaiknya direncanakan sejak awal, apakah sistem dadakan, terjadual, atau permintaan. Hal ini dikarenakan berpengaruh terhadap instrumen yang dipakai.
2. Tahap Pelaksanaan Observasi
Langkah penting yang pertama ditempuh oleh supervisor adalah penciptaan pra kondisi observasi. Langkah ini ditujukan dengan penciptaan suasana kerja yang akrab antara supervisor dengan guru, pengenalan latar belakang guru, pengenalan latar belakang murid, atau hal-hal serupa lainnya. Langkah ini ditempuh guna menciptakan situasi yang kondusif bagi pelaksanaan observasi yang efektif dan efisien, sehingga data dan fakta yang terkumpul mencerminkan keadaan yang sebenarnya.
Dalam melaksanakan observasi, ada beberapa hal yang harus diperhatikan (Nurtain, 1989), yaitu:
a. Kelengkapan catatan.
b. Fokus.
c. Mencatat komentar.
d. Pola perilaku mengajar tertentu.
e. Membuat guru tidak merasa gelisah.
3. Tahap Tindak Lanjut
Langkah penting pada tahap ini adalah mengolah semua data dan fakta yang terkumpul melalui instrumen, sehingga siap disajikan, dianalisis, dan akhirnya menjadi bahan penting pengambilan kebijakan dan atau didokumentasikan. Kegiatan pengolahan ini merupakan langkah penting dan menjadi bagian integral dari keseluruhan kegiatan observasi.  (MM) baca artikel terbaik lainnya

Pengertian Guru Berprestasi

Dalam Undang-undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen (2005), dinyatakan bahwa guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Sedangkan guru yang dimaksud dalam penelitian ini adalah guru Sekolah Dasar (SD). Jadi, guru Sekolah Dasar adalah pendidik professional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada Sekolah dasar.
Guru berprestasi dalam pelaksanaan pembelajaran merupakan guru yang mampu melaksanakan tugas pokok dan fungsinya (Tupoksi) dengan baik dalam pelaksanaan pembelajaran. Dalam pembelajaran sesuai dengan tupoksinya guru melaksanakan serangkaian kegiatan, meliputi:
1. Menyusun program pembelajaan dalam satu tahun pelajaran atau prota.
2. Menyusun program pembelajaran dalam satu semester baik semester I maupun semester II atau promes.
3. Menyusun silabus.
4. Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).
5. Melaksanakan pembelajaran.
6. Menyusun kisi-kisi soal.
7. Menyusun Soal.
8. Melaksanakan Analisis.
9. Melaksanakan tindak lanjut.
Semua kegiatan guru dalam pembelajaran tersebut saling berkaitan satu dengan yang lain. Sebagaimana dituangkan pada Peraturan Pemerintah Nomor 19 tentang Standar Nasional Pendidikan (2005) bahwa proses pembelajaran meliputi silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran, sumber belajar, dan penilaian hasil belajar. Keterkaitan tersebut nampak pada pelaksanaan pembelajaran. Dalam pelaksanaan pembelajaran tidak lepas dari rangkaian kegiatan tersebut. Akan tetapi tetap bertitik tumpu pada keberhasilan pembelajaran yang terletak pada waktu guru melaksanakan pembelajaran. Oleh karena itu, prestasi guru dapat dilihat dari guru pada waktu melaksanakan pembelajaran di depan kelas.
Bertitik tolak dari paparan tersebut dapat dinyatakan bahwa guru berprestasi dalam melaksanakan pembelajaran apabila guru mampu mengakomudir semua rangkaian kegiatan tersebut salama melaksanakan pembelajaran. (MM) baca artikel terbaik lainnya

Macam-macam Supervisi Kelas

Macam-macam Supervisi
Sanyoto (2009) menyatakan bahwa supervisi untuk meningkatkan mutu pendidikan oleh pengawas ada dua macam, yaitu supervisi manajerial dan supervisi akademik. Kedua supervisi tersebut secara rinci dijelaskan sebagai berikut:
a. Supervisi Manajerial, meliputi:
1) Supervisi manajemen sekolah
Menurut Juknis Akreditasi SD/MI (2008:14), Kompetensi Manajemen Sekolah yang dilaksanakan sekolah meliputi:
a) Menyusun perencanaan jangka panjang, jangka menengah dan perencanaan jangka pendek.
b) Mengembangkan organisasi sekolah sesuai dengan kebutuhan.
c) Memimpin sekolah dalam rangka pendayagunaan sumber daya sekolah secara optimal.
d) Mengelola perubahan dan pengembangan sekolah menuju organisasi pembelajaran yang efektif.
e) Menciptakan budaya dan iklim sekolah yang kondusif dan inovatif bagi pembelajaran siswa.
f) Mengelola guru dan staf dalam rangka pendayagunaan sumber daya manusia secara optimal.
g) Mengelola sarana dan prasarana sekolah dalam rangka pendayagunaan secara optimal.
h) Mengelola siswa dalam rangka penerimaan siswa baru dan penempatan kapasitas siswa.
i) Mengelola pengembangan kurikulum dan kegiatan pembelajaran sesuai dengan tujuan pendidikan nasional.
j) Mengelola   keuangan    sekolah   sesuai  dengan prinsip pengelolan yang akuntabel, transparan, dan efisien.
k) Mengelola administrasi sekolah dalam mendukung pencapaian tujuan sekolah.
l) Memanfaatkan kemajuan teknologi informasi bagi peningkatan pembelajaran dan manajemen sekolah.
2) Supervisi kinerja kepala sekolah
Dalam supervisi kinerja kepala sekolah ini dititik beratkan pada tugas pokok dan fungsi kepala sekolah. Menurut Juknis Akreditasi SD/MI (2008:36), Tupoksi Kepala Sekolah meliputi:
a) Menjabarkan visi ke dalam misi target mutu.
b) Merumuskan tujuan dan target mutu yang akan dicapai.
c) Membuat rencana kerja strategis dan rencana kerja tahunan untuk pelaksanaan peningkatan mutu.
d) Melibatkan guru dan komite sekolah dalam pengambilan keputusan penting sekolah.
e) Bertanggung jawab dalam membuat keputusan anggaran sekolah.
f) Bertanggung jawab atas perencanaan partispatif mengenai pelaksanaan kurikulum.
g) Merumuskan program dan melaksanaan supervisi, serta memanfaatkan hasil supervisi untuk meningkatkan kinerja sekolah.
h) Memberi teladan dan menjaga nama baik lembaga, profesi, dan kedudukan sesuai dengan kepercayaan yang diberikan kepadanya.
i) Melaksanakan pembelajaran sama dengan guru.
j) Menciptakan lingkungan pembelajaran yang efektif bagi siswa.
b. Supervisi Akademik, meliputi:
1) Supervisi kelas dalam pelaksanaan pembelajaran
Supervisi kelas dalam pelaksanaan pembelajaran (Depdiknas, 2007:2) meliputi:
a) Kegiatan Awal Pembelajaran
(1) Mempersiapkan siswa untuk belajar.
(2) Melakukan kegiatan apersepsi.
b) Kegiatan Inti Pembelajaran
(1) Penguasaan materi pelajaran, meliputi: menunjukkan penguasaan materi pelajaran, mengaitkan materi dengan pengetahuan lain yang relevan, menyampaikan mataeri dengan jelas, dan mengaitkan materi dengan realitas kehidupan.
(2) Pendekatan / strategi pembelajaran, meliputi: melaksanakan pembelajaran sesuai dengan tujuan, melaksanakan pembelajaran secara runtut, menguasai kelas, melaksanakan pembelajaran yang bersifat kontekstual, melaksanakan pembelajaran sesuai dengan alokasi waktu.
(3) Pemanfaatan sumber belajar / media pembel;ajaran, meliputi: menggunakan media secara efektif dan efisien, menghasilkan pesan yang menarik, dan melibatkan siswa dalam pemanfaatan media.
(4) Pembelajaran yang memicu dan memelihara keterlibatan siswa, meliputi: menumbuhkan partisipasi aktif siswa dalam pembelajaran, menunjukkan sikap terbuka terhadap respon siswa, dan menumbuhkan keceriaan dan antusiassiswa dalam belajar.
(5) Penilaian proses dan hasil belajar, meliputi: memantau kemajuan belajar selama proses dan melaksanakan penilaian akhir sesuai dengan kompetensi.
(6) Penggunaan bahasa, meliputi: menggunakan bahasa lisan dan tulis secara jelas, baik dan benar, menyampaikan pesan dengan gaya yang sesuai.
c) Penutup
(1) Melakukan refleksi atau membuat rangkuman melibatkan siswa.
(2) Melaksanakan tindak lanjut dengan perbaikan dan pengayaan.
2) Supervisi terapi dalam membimbing mengatasi kesulitan guru dalam Pembelajaran
Kesulitan yang dihadapi guru dalam melaksanakan tugas, meliputi:
a) Penyusunan Program Tahunan (Prota).
b) Penyusunan Program Semester (Promes).
c) Penyusunan Silabus.
d) Penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).
e) Pelaksanaan Pembelajaran.
f) Penyusunan Analisis hasil belajar.
Dari beberapa macam supervisi di atas, supervisi yang dilaksanakan dalam penelitian ini adalah supervisi akademik, yakni supervisi kelas. Karena supervisi kelas merupakan supervisi yang relevan untuk meningkatkan prestasi guru dalam pelaksanaan pembelajaran. (MM) baca artikel terbaik lainnya

Pengertian dan Tujuan Supervisi Kelas

1. Pengertian Supervisi Kelas
Menurut Wajowasito dan Poerwadarminta (dalam Indrayanto, 2007:1),  secara etimologis supervisi dialih bahasakan dari bahasa Inggris, yaitu “Supervision” artinya pengawasan.
Sedangkan menurut Ametembun (dalam Indrayanto, 2007:1), menyebutkan bahwa dilihat dari bentuk perkataannya, supervisi terdiri dari dua buah kata super + vision : Super = atas, lebih, Vision = lihat, tilik, awasi. Makna yang terkandung dari pengertian tersebut, bahwa seorang supervisor mempunyai kedudukan atau posisi lebih dari orang yang disupervisi, tugasnya adalah melihat, menilik atau mengawasi orang-orang yang disupervisi. Demikian pula para ahli dalam bidang administrasi pendidikan (dalam Indrayanto, 2007:1) memberikan kesepakatan bahwa supervisi pendidikan merupakan disiplin ilmu yang memfokuskan diri pada pengkajian peningkatan situasi belajar-mengajar.
Supervisi yang dilakukan oleh pengawas satuan pendidikan, tentu memiliki misi yang berbeda dengan supervisi oleh kepala sekolah. Dalam hal ini supervisi lebih ditujukan untuk memberikan pelayanan kepada kepala sekolah dalam melakukan pengelolaan kelembagaan secara efektif dan efisien serta mengembangkan mutu kelembagaan pendidikan.
Sependapat dengan Razik (dalam Indrayanto, 2007:1) yang menyatakan bahwa dalam konteks pengawasan mutu pendidikan, maka supervisi oleh pengawas satuan pendidikan antara lain kegiatannya berupa pengamatan secara intensif terhadap proses pembelajaran pada lembaga pendidikan, kemudian ditindak lanjuti dengan pemberian feed back.
Rifa’i (dalam Indrayanto, 2007:1) merumuskan istilah supervisi merupakan pengawasan profesional, sebab hal ini di samping bersifat lebih spesifik juga melakukan pengamatan terhadap kegiatan akademik yang mendasarkan pada kemampuan ilmiah, dan pendekatannya pun bukan lagi pengawasan manajemen biasa, tetapi lebih bersifat menuntut kemampuan professional yang demokratis dan humanistik oleh para pengawas pendidikan.
Dalam penelitian ini, yang dimaksud supervisi adalah bantuan dalam pengembangan situasi belajar-mengajar oleh pengawas sekolah agar memperoleh kondisi yang lebih baik.
2. Tujuan Supervisi kelas
Menurut Suwantikno (2007:2), tujuan supervisi yaitu:
a. Meningkatkan mutu kinerja guru, antara lain:
1) Membantu guru dalam memahami tujuan pendidikan dan apa peran sekolah dalam mencapai tujuan tersebut
2) Membantu guru dalam melihat secara lebih jelas dalam memahami keadaan dan kebutuhan siswanya.
3) Membentuk moral kelompok yang kuat dan mempersatukan guru dalam satu tim yang efektif, bekerjasama secara akrab dan bersahabat serta saling menghargai satu dengan lainnya.
4) Meningkatkan kualitas pembelajaran yang pada akhirnya meningkatkan prestasi belajar siswa.
5) Meningkatkan kualitas pengajaran guru baik itu dari segi strategi, keahlian dan alat pengajaran.
6) Menyediakan sebuah sistim yang berupa penggunaan teknologi yang dapat membantu guru dalam pengajaran.
7) Sebagai salah satu dasar pengambilan keputusan bagi kepala sekolah untuk merespon guru.
b. Meningkatkan keefektifan kurikulum sehingga berdaya guna dan terlaksana dengan baik.
c. Meningkatkan keefektifan dan keefesiensian sarana dan prasarana yang ada untuk dikelola dan dimanfaatkan dengan baik sehingga mampu mengoptimalkan keberhasilan siswa.
d. Meningkatkan kualitas pengelolaan sekolah khususnya dalam mendukung terciptanya suasana kerja yang optimal yang selanjutnya siswa dapat mencapai prestasi belajar sebagaimana yang diharapkan.
e. Meningkatkan kualitas situasi umum sekolah sehingga tercipta situasi yang tenang dan tentram serta kondusif yang akan meningkatkan kualitas pembelajaran yang menunjukkan keberhasilan lulusan. (MM) baca artikel terbaik lainnya

Tugas Pokok dan Fungsi Kepala Sekolah dan Pengawas Sekolah

Tugas Pokok dan Fungsi Kepala Sekolah
Di samping peran kepala sekolah, kepala sekolah memiliki Tugas pokok dan fungsi (Tupoksi). Menurut Petunjuk Teknis (Juknis) pengisian instrumen Akreditasi Sekolah Dasar (2009:36), dijelaskan secara rinci tugas pokok dan fungsi kepala sekolah, sebagai berikut:
a. Menjabarkan visi ke dalam misi target mutu.
b. Merumuskan tujuan dan target mutu yang akan dicapai.
c. Menganalisis tantangan, peluang, kekuatan, dan kelemahan sekolah.
d. Membuat rencana kerja strategis dan rencana kerja tahunan untuk pelaksanan peningkatan mutu.
e. Bertanggung jawab dalam membuat keputusan anggaran sekolah.
f. Melibatkan guru, komite sekolah dalam pengambilan keputusan penting sekolah.
g. Berkomunikasi untuk menciptakan dukungan intentif dari orang tua murid.
h. menjaga dan meningkatkan motivasi kerja pendidian dan tenaga kependidikan.
i. Menciptakan lingkungan pembelajaran yang efektif bagi siswa.
j. Bertanggung jawab atas perencanaan partisipatif menegenai pelaksanaan kurikulum.
k. Meningkatkan mutu pendidikan.
Dengan adanya tugas pokok dan fungsi (Tupoksi) tersebut seorang kepala sekolah dapat bekerja dengan penuh tanggung jawab dan tidak menyimpang dari Tupoksinya tersebut.

Tugas Pokok dan Fungsi (Tupoksi) Pengawas Sekolah
Menurut Mendiknas (2009:53), dinyatakan bahwa budaya mutu yang dapat ditunjukkan  adanya peningkatan kinerja kepala sekolah adalah peran hasil pengawasan dan supervisi Pengawas Sekolah. Berkaitan dengan ini maka hasil pengawasan dapat dipandang sebagai unsur yang menunjang penilaian kinerja kepala sekolah.
Bertitik tolak dari itulah pengawas sekolah sangat penting dalam meingkatkan kinerja kepala sekolah.  Maka dari itu, di sini perlu dibahas tugas pokok dan funsi pengawas sekolah.  Pembahasan tugas pokok dan fungsi Pengawas Sekolah dibahas sebagai landasan teori yang relevan untuk meneliti Penerapan Supervisi Manajerial Guna Meningkatan Kinerja Kepala Sekolah pada SD Binaan di Kecamatan Karas Kabupaten Magetan Semester I Tahun Pelajaran 2012/2013.
Tugas Pokok, Fungsi, wewenang dan Fungsi Pengawas Sekolah dapat dibuat bagan sebagai berikut (Depdiknas, 2007:4):
1. Tugas Pengawas Sekolah
Tugas nyata seorang pengawas pada garis besarnya ada dua macam, yaitu:
a. Melaksanakan Supervisi akademik terhadap guru dalam melaksanakan pembelajaran. Sebelum pengawas sekolah melaksanakan supervisi akademik terlebih dahulu menyusun kepengawasan akademik (RKA).
b. Melaksanakan supervisi manajerial terhadap kinerja kepala sekolah. Sebelum pengawas sekolah melaksanakan supervisi manajerial  terlebih dahulu menyusun kepengawasan manajerial (RKM).
2. Wewenang Pengawas Sekolah
Salah satu wewenang pengawas sekolah adalah menilai dan menetapkan tingkat kinerja sekolah, kepala sekolah, guru, dan tendik lain. Jadi di sini seorang pengawas menilai peningkatan kinerja kepala sekolah sudah menjadi wewenang pengawas sekolah.
3. Fungsi Pengawas Sekolah
Pengawas sekolah melaksanakan tugas pokok dan wewenangnya harus menggunakan fungsinya, yaitu pengawas berfungsi mitra guru, inovator, konselor, motivator, kolaborator, asesor, evaluator, dan konsultan. (MM) baca artikel terbaik lainnya

Beberapa Peran Kepala Sekolah

Peran Kepala Sekolah sebagai Administrator
Kepala sekolah berperan sebagai tenaga administrasi sekolah. Berdasarkan petunjuk administrasi sekolah dasar administrasi sekolah meliputi: administrasi program pengajaran, administrasi kemuridan dan administrasi keuangan  (1983:1). Selaras dengan administrasi sekolah tersebut sebagaimana dijelaskan oleh Mendiknas (2007:27) bahwa pengelolaan administrasi sekolah meliputi:
1) Pengelolaan Administrasi Kesiswaaan
Yang termasuk administrasi kesiswaan adalah:
a) Administrasi Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB).
b) Buku klaper, yaitu  daftar  siswa  berdasarkan  urutan abjad.  Buku klaper ini dipergunakan setiap siswa masuk dan siswa yang keluar.
c) Buku induk siswa, setiap murid baru masuk dicatat dimasukkan pada buku induk siswa.
d) Buku Rapor, merupakan laporan hasil belajar siswa.
e) Buku leger, untuk mencatat hasil nilai ujian akhir sekolah.
f) Buku Kepribadian siswa, untuk mencatat perkembangan kepribadian siswa.
g) Bank Data siswa.
2) Adminitrasi pembelajaran.
Administrasi pembelajaran ini meliputi:
a) Prota dan promes
b) Silabus
c) Rencana Pelaksanan Pembelajaran (RPP)
d) Analisis hasil evaluai belajar
e) Perbaikan dan Pengayaan
3) Administrasi sarana prasarana.
Administrasi sarana dan prasarana, meliputi
a) Program pengadaan sarana dan prasarana.
b) Inventarisasi sarana dan prasarana.
c) Berita Acara penghangusan sarana prasarana.
Adminstrasi keuangan.
Adminmsitrasi keuangan Sekolah Dasar, meliputi :
a) RAPBS
b) SPJ Penggunaan Keuangan sekolah
c) Buku Kas Umum (BKU)
d) Buku Kas Pembantu (BKP)
Administrasi layanan khusus pendidikan.
Administrasi layanan khusus ini meliputi :
a) Layanan Perpustakaan
b) Layanan Kesehatan
c) Layanan Keamanan
Peran Kepala Sekolah sebagai supervisor
Kepala sekolah wajib melaksanakan supervisi terhadap semua guru dalam melaksanakan pembelajaran. Untuk itu, kepala sekolah perlu mengambil langkah-langkah sebagai berikut:
1) Menyusun program supervise. Dalam menyusun program supervisi ini diharapkan semua guru diprogram atau dijadwal pelaksanaan supervisi, minimal setiap dua bulan sekali guru disupervisi.
2) Menyiapkan instrumen supervisi dan perangkat supervisi lainnya.
3) Guru senior perlu diberi tugas untuk melaksanakan supervisi kepada guru lain.
4) Kepala sekolah dan atau guru senior wajib melaksanakan supervisi tindak lanjut.
Peran kepala sekolah sebagai Leader
Kepala sekolah berperan sebagai pemimpin. Seorang pemimpin setidak-tidaknya menggunakan ajaran Ki Hadjar Dewantoro, yaitu: Ing ngarso sung tuladha, Ing madya bangun karso, dan Tut Wuri Handayani.
Kepala sekolah sebagai seorang pemimpin diharapkan memiliki kepribadian  (kemampuan)  yang tinggi, rasa tanggung jawab yang besar, komitmen tinggi, dan memiliki  rasa tanggung jawab yang hebat, dan mampu menjabarkan serta melaksanakan pengelolaan yang berkualitas (Depdiknas, 2007:51).
Kepala sekolah berperan sebagai inovator
Kepala sekolah harus berani mengadakan pembaharuan. Utamanya pembaharuan dalam bidang pendidikan. Di samping itu kepala sekolah siap melaksanakan pembaharuan-pembaharuan.
Peran kepala sekolah sebaga motivator
Kepala sekolah harus mampu memberikan dorongan dan semangat kepada guru-guru dan staf lainnya. Dengan memberi dorongan ini akan menghasilkan sekolah yang maju, dan bermutu. Dari paparan hal peran kepala sekolah tersebut kinerja kepala sekolah akan nampak. (MM) baca artikel terbaik lainnya 

Kinerja Kepala Sekolah

A. Kinerja Kepala Sekolah
kinerja kepala sekolah adalah kemapuan untuk melaksanakan pekerjaan atau tugas yang dimiliki kepala sekolah dalam menyelesaikan suatu pekerjaan di sekolah yang dipimpin (Depdiknas, 2007:5). Dalam melaksanakan pekerjaan atau tugas yang dimiliki kepala sekolah nampak pada dua segi, yaitu peran kepala sekolah dan tugas pokok dan fungsi kepala sekolah.

B. Ukuran Keberhasilan Kinerja Kepala Sekolah
Sebagaimana dijelaskan di atas, bahwa keberhasilan kinerja kepala sekolah dapat ditinjau dari dua segi , yaitu peran Kepala Sekolah dan  tugas pokok dan fungsi kepala sekolah. Dua segi tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Peran Kepala Sekolah
Peran kepala sekolah sebagaimana diungkapkan di depan, bahwa peran kepala sekolah meliputi tujuh macam, yaitu (1). Peran kepala sekolah sebagai educator, (2). Manajer, (3). Administrator, (4). Supervisor, ( 5). Leader, (6). Inovator, dan (7). Motivator. Ketujuh peran kepala sekolah tersebut secara rinci dapat dijelaskan sebagai berikut:
a. Peran Kepala Sekolah sebagai Educator
Kepala sekolah dikatakan beperan sebagai educator apabila kepala sekolah melaksanakan perannya sebagai guru yang baik. Guru yang baik adalah guru yang dapat menjadi contoh guru-guru lain dalam melaksanakan pembelajaran. Kepala sekolah wajib mengajar atau memberi pelajaran kepada siswa. minimal 6 jam pelajaran tiap minggunya.  Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, dinyatakan pada Bab IV Standar Proses pasal 19 sampai dengan pasal 24 (2005:13) telah dituangkan tugas pokok guru, yaitu:
1) Guru  menyusun  program  pembelajaran  tahunan (prota) dan program pembelajaran semester (promes).
2) Menyusun silabus semua pelajaran yang diajarkan.
3) Menyusun  Rencana  Pelaksanaan  Pembelajaran (RPP). Dalam menyusun RPP sekurang-kurangnya memuat tujuan pembelajaran, materi ajar, metode pengajaran, sumber belajar, dan penilaian hasil belajar.
4) Melaksanakan pembelajaran, dalam satu minggu minimal 6 jam pelajaran.
5) Melaksanakan evalusi hasil belajar.
6) Melakukan tindak lanjut atau mengalisis hasil evaluasi belajar, berupa perbaikan dan pengayaan.
b. Peran kepala sekolah sebagai Manager
Peran kepala sekolah sebagai manager adalah kemampuam kepala sekolah dalam mengelola SDM di sekolah. Terdapat 4 prinsip dasar yang harus dipegang kepala sekolah (Depdiknas, 2007:24), yaitu:
1) Dalam  mengembangkan  sekolah,  SDM  adalah komponen paling berharga.
2) SDM akan berperan secara optimal jika dikelola dengan baik sehingga  mendukung  tercapainya  tujuan  institusional/standar kompetensi.
3) Kultur dan suasana organisasi di sekolah, serta perilaku manajerial kepala sekolah dangat berpengaruh terhadap pencapaian tujuan pengembangan sekolah.
4) Manajemen SDM di sekolah pada prinsipnya mengupayakan agar setiap warga (guru, staf administrasi, siswa, orang tua, dan yang terkait) dapat bekerja sama saling mendukung untuk mencapai tujuan institusional/standar kompetensi.
Penataan manajemen yang baik, rapi, terkoordinir, dan berkelanjutan, akan memberikan kontribusi yang berarti terhadap peningkatan mutu layanan sekolah secara keseluruhan. Manajemen dalam pengelolaan TK/SD, dapat digolongan dua bagian, yaitu:
1) Manajemen sekolah
Manajemen sekolah adalah upaya kepala TK/SD dalam  mengelola dan meningkatkan mutu layanan sekolah. Untuk itu, tindakan kepala sekolah adalah:
a) Pendataan,  data  yang  lengkap  dan  akurat  tentang siswa, guru, sarana prasarana, prestasi hasil belajar.
b) Menyusun program sekolah, baik program jangka pendek, jangka, menengah, maupun jangka panjang. Dalam menyusun  program  sekolah  ini  kepala  sekolah membuat rencana strategis atau Renstra.
c) Menyusun Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja sekolah (RAPBS) bersama-sama dengan guru dan komite sekolah
2) Manajemen Kelas.
Manajemen kelas berkaitan dengan kegiatan pembelajaran, misalnya: data kelas, daftar hadir siswa, daftar nilai, bank data, dan sebagainya.  (MM) baca artikel terbaik lainnya

Sunday, June 22, 2014

Rambu-rambu Pelaksanaan PLPG

A. RASIONAL
Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional,  Undang-undang RI Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, dan Peraturan Pemerintah RI Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan menyatakan guru adalah pendidik professional, termasuk guru bimbingan dan konseling (guru BK) yang pada uraian ini selanjutnya disebut guru. Untuk itu, guru dipersyaratkan memiliki kualifikasi akademik minimal Sarjana atau Diploma IV (S1/D-IV) yang relevan dan menguasai kompetensi sebagaimana dituntut oleh Undang-undang Guru dan Dosen. 
Sertifikasi guru sebagai upaya peningkatan mutu guru yang diikuti dengan peningkatan kesejahteraan guru, diharapkan dapat meningkatkan mutu pembelajaran dan meningkatkan mutu layanan bimbingan dan konseling bagi guru BK yang pada akhirnya meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia secara berkelanjutan. Sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No 18 Tahun 2007, prosedur pelaksanaan sertifikasi bagi guru dalam jabatan disajikan pada Gambar 1.

B. DASAR HUKUM
Sertifikasi bagi guru dalam jabatan sebagai upaya meningkatkan profesionalisme guru dan meningkatkan mutu layanan dan hasil pendidikan di Indonesia, diselenggarakan berdasarkan landasan hukum sebagai berikut.
1. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
2. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.
3. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.
4. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 16 Tahun 2005 tentang Standar Kualifikasi dan Kompetensi Pendidik.
5. Fatwa/Pendapat Hukum Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia No. I.UM.01.02-253.
6. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 18 Tahun 2007 tentang Sertifikasi bagi guru dalam Jabatan.
7. Pedoman Sertifikasi Bagi Guru dalam Jabatan  untuk Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan, Dinas Pendidikan Provinsi, Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota.

C. TUJUAN
Tujuan PLPG adalah sebagai berikut.
1. Untuk meningkatkan kompetensi guru yang belum lulus dalam penilaian portofolio.
2. Untuk menentukan kelulusan peserta sertifikasi guru dalam jabatan yang belum lulus dalam penilaian portofolio.

D. PESERTA
Peserta PLPG adalah guru peserta sertifikasi yang belum lulus pada penilaian portofolio dan direkomendasikan untuk mengikuti PLPG oleh Rayon LPTK penyelenggara sertifikasi bagi guru dalam jabatan.

E. PENYELENGGARAAN
1. PLPG diselenggarakan dengan bobot 90 Jam Pertemuan (JP), dengan alokasi 30 JP teori  dan 60 JP praktik. Satu JP setara dengan 50 menit.
2. PLPG dilaksanakan oleh LPTK penyelenggara sertifikasi guru dalam jabatan. Pelaksanaan PLPG bertempat di LPTK atau di kabupaten/kota
3. Rombongan belajar (rombel) pada PLPG diupayakan satu bidang mapel/keahlian. Dalam kondisi tertentu yang tidak memungkinkan (dari segi jumlah) rombel dapat dilakukan berdasarkan rumpun.
4. PLPG diakhiri dengan uji kompetensi guru yang dilakukan oleh LPTK Penyelenggara Sertifikasi Guru dengan mengacu pada rambu-rambu Ujian PLPG. Uji kompetensi meliputi uji tulis dan uji kinerja (praktik pembelajaran).
5. Peserta yang lulus mendapat sertifikat pendidik, sedangkan yang tidak lulus diberi kesempatan untuk mengikuti ujian ulang yang dilaksanakan oleh LPTK penyelenggara sebanyak-banyaknya dua kali dengan tenggang waktu sekurang-kurangnya dua minggu sejak tanggal pengumuman.
6. Pelaksanaan ujian diatur oleh Rayon LPTK Penyelenggara Sertifikasi Guru dalam jabatan dengan mengacu rambu-rambu ini.
7. Peserta yang telah mengikuti ujian ulang  sebanyak dua kali namun masih belum lulus maka diserahkan kembali ke dinas pendidikan atau Kandepag kabupaten/kota untuk dibina lebih lanjut.

F. MATERI
Materi PLPG mencakup empat kompetensi guru, yaitu: (1) pedagogik, (2) profesional, (3) kepribadian, dan (4) sosial. Jabaran rinci materi PLPG ditentukan oleh LPTK penyelenggara sertifikasi dengan mengacu pada rambu-rambu yang ditetapkan oleh Dirjen Dikti/Ketua Konsorsium Sertifikasi Guru. Rambu-rambu Struktur Program PLPG terdapat pada Lampiran 1 sampai dengan 7.

G. INSTRUKTUR
Instruktur PLPG direkrut dan ditugaskan oleh Ketua Rayon LPTK Penyelenggara dengan syarat-syarat sebagai berikut.
1. Warga negara Indonesia yang berstatus sebagai dosen pada Rayon LPTK Penyelenggara Sertifikasi. Dalam hal Rayon LPTK tidak mempunyai bidang studi yang relevan maka dapat meminta bantuan rayon lain.
2. Sehat jasmani/rohani dan memiliki komitmen, kinerja yang baik, serta sanggup melaksanakan tugas.
3. Berpendidikan minimal S2 (dapat S1 dan S2 kependidikan; atau S1 kependidikan dan S2 nonkependidikan; atau S1 nonkependidikan dan S2 kependidikan). Khusus untuk guru bidang kejuruan, instruktur dapat berkualifikasi S1 dan S2 nonkependidikan yang relevan dan memiliki Akta V atau sertifikat Applied Approach.
4. Memiliki pengalaman mengajar pada bidang yang relevan sekurang-kurangnya 10 tahun. Khusus bagi instruktur pelatihan guru BK memiliki pengalaman menjadi konselor.
5. Diutamakan dosen yang memiliki pengalaman menjadi instruktur/nara sumber/ fasilitator/asesor  pada bidang yang relevan.

H. UJIAN
Penyelenggaraan PLPG diakhiri dengan ujian yang mencakup ujian tulis dan ujian kinerja (praktik pembelajaran bagi guru atau praktik bimbingan dan konseling bagi guru BK). Ujian tulis dalam PLPG untuk mengungkap kompetensi profesional dan pedagogi sedangkan ujian kinerja untuk mengungkap kompetensi profesional, pedagogik, kepribadian, dan sosial. Keempat kompetensi ini juga bisa dinilai selama proses pelatihan berlangsung. Rambu-rambu Ujian PLPG terdapat pada Lampiran 8. Ujian kinerja dalam PLPG dilakukan dalam praktik pembelajaran bagi guru kelas/guru bidang studi dan praktik konseling bagi guru BK.

I. UJIAN ULANG
Materi ujian ulang pada hakikatnya sama dengan ujian pertama yaitu meliputi ujian tulis dan ujian praktik. Dalam kondisi tertentu (jumlah peserta dalam rombel sedikit) maka ujian praktik dapat menggunakan kelas lain sesuai dengan kondisi setempat misalnya melibatkan panitia dan atau instruktur sebagai siswa.
(MM) baca artikel terbaik lainnya

Dampak Negatif Susu Soya bagi Kesehatan

The Cancer Council of New South Wales, Australia telah memperingatkan penderita kanker untuk menghindari makanan yang berbahan dasar kedelai. Peringatan tersebut dilatarbelakangi oleh karena kedelai non-fermentasi akan mempercepat pertumbuhan kanker.
Produk kedelai terbagi menjadi 2 jenis, yakni produk yang terfermentasi adalah tempe, kecap, miso, natto dan kecambah kedelai. Dilain sisi terdapat produk NON-FERMENTASI seperti misalnya tahu dan susu kedelai, dan lainnya.
Pada produk kacang kedelai yang non-fermentasi terdapat kandungan zat yang diyakini membawa dampak buruk dan perlu diperhatikan, diantaranya seperti: Kanker Tiroid
A) Goitrogen – komponen yang mengganggu fungsi tiroid, dapat menyebabkan hypotiroid dan juga beresiko menyebabkan kanker tiroid. Untuk terjadi kanker, tergantung banyaknya dan usia. Berdasarkan Soy Online Service, bayi seharusnya
tidak mengonsumsi kedelai sama sekali. Bagi orang dewasa, hanya dengan 30 mg isoflavone (termasuk komponen goitrogen) per hari cukup mengganggu fungsi tiroid. Takaran isoflavon yang perlu diwaspadai ini ada pada 5-8 ons susu kedelai.
B) Asam Phytic – Kedelai mengandung asam Phytic, yaitu asam yang dapat menghalangi penyerapan mineral seperti misalnya zat besi, kalsium, tembaga, dan terutama seng dalam saluran pencernaan.
Seng dibutuhkan untuk perkembangan dan fungsi otak serta sistem syaraf. Juga berperan penting dalam mengendalikan mekanisme kadar gula darah sehingga melindungi dari diabetes serta menjaga kesuburan.
Pada proses fermentasi kandungan asam phytic ini jauh berkurang sampai pada level aman untuk segala umur.
C) Penghambat Trypsin – mengurangi kemampuan untuk mencerna protein. Pemberian produk kedelai yang non-fermentasi pada bayi dan anak secara teratur akan mengganggu pertumbuhannya. Kacang-kacangan lain yang memiliki kandungan penghambat trypsin yang tinggi adalah kacang lima.
D) Nitrat – bersifat karsinogen (penyebab kanker), terbentuk pada saat pengeringan, dan zat beracun lysinoalanin terbentuk selama proses alkalin. Berbagai macam zat aditif buatan, terutama MSG (zat aditif yang merusak sel syaraf) telah ditambahkan pada produk kedelai untuk menyamarkan “aroma kacang”nya yang kuat dan memberikan rasa mirip daging.
E) Phytoestrogen – Biasanya dipakai untuk membantu mengurangi efek produksi estrogen yang rendah dalam tubuh, kini ditemukan sebagai faktor penyebab kanker payudara dan leukemia pada anak.
F) Aluminum – Dari beberapa penelitian telah diketahui adanya hubungan antara keberadaan aluminium dengan penyakit Alzheimer. Tapi tahukah Anda bahwa susu kedelai mengandung aluminium 11 kali (1100 persen) lebih banyak dibandingkan susu formula biasa?!
G) Mangan – Produk formula kedelai memiliki kandungan mangan berlebih bagi tubuh kita. Mangan dalam tingkat kecil sangat kita butuhkan untuk membantu sel tubuh kita mengumpulkan energi. Tapi jika berlebih, mangan bisa menyebabkan kerusakan otak seperti pada penyakit Parkinson.
Tingkat kandungan mangan di tiap susu bayi berbeda-beda, yaitu:
ASI mengandung 4-6 mcg/L.
Susu formula bayi biasa (dari sapi) mengandung 30-50 mcg/L.
Susu formula kedelai mengandung 200-300 mcg/L!!!
H) Terlalu Banyak Omega-6. Produk kedelai non-fermentasi mengandung kandungan Omega-6 yang lebih banyak dibandingkan Omega-3. Ketidakseimbangan rasio antara Omega-3 dengan Omega-6 akan membuat kita rentan terkena penyakit kanker, diabetes, penyakit jantung, arthritis, asma, hiperaktif, dan depresi. (MM) baca artikel terbaik lainnya

Tanda-tanda Bayi Alergi Susu Sapi

Alergi susu sapi dapat timbul sejak beberapa menit sampai beberapa jam setelah mengkonsumsi susu sapi. Tanda dan gejala bervariasi dari yang ringan sampai yang parah termasuk sesaj, muntah, kulit kemerahan dan masalah pencernaan. Walaupun jarang, alergi susu sapi dapat menyebabkan reaksi anafilaksis – reaksi yang berat dan mengancam jiwa.
Eliminasi susu sapi adalah pengobatan utama pada alergi susu sapi. Sayangnya, pada sebagian anak alergi susu sapi timbul sampai usia 3 tahun.
Gejala alergi susu sapi

Gejala yang timbul sesaat setelah mengkonsumsi susu sapi adalah :
Kulit kemerahan dan bengkak
Sesak
Muntah-muntah
Tanda dan gejala yang timbulnya memerlukan waktu :
Feses lembek, kadang disertai darah
Diare
Nyeri perut
Batuk & grok-grok
Pilek
Mata berair
Kulit merah-merah dan gatal terutama di sekitar mulut & wajah
Kolik (pada bayi)

Penyebab alergi susu sapi
Semua alergi makanan disebabkan adanya sistem imun yang kurang berfungsi. Sistem imun mengidentifikasi protein susu sebagai hal yang membahayakan sehingga memicu tubuh menghasilkan antibody imunoglobulen E (IgE) untuk menetralisis protein (allergen). Suatu saat bila terjadi kontak lagi dengan protein yang sama, antibodi IgE mengenali allergen tersebut dan memberikan sinyal ke sistem imun untuk mengeluarkan histamine, dan histamine inilah yang bertanggungjawab terbentuknya reaksi alergi termasuk pilek, mata gatal, tenggorokan gatal, bengkak, muntah bahkan reaksi anafilaksis.

Reaksi alergi terhadap susu sapi dapat terjadi :
1. Langsung (immediate) - dalam hitungan menit hingga 1 jam setelah susu sapi diminum. Termasuk gejala gatal-gatal, eksim, wajah bengkak, bersin, muntah, diare dan yang terparah adalah reaksi anafilaksis. Reaksi ini adalah reaksi yang diperantarai IgE (Imunoglobulin E). Reaksi anafilaksis adalah keadaan emergensi yang memerlukan terapi dengan suntikan epinefrin (adrenalin) yang dilakukan di instalasi gawat darurat. Gejalanya dapat berupa penyempitan saluran nafas termasuk pembengkakan di tenggorokan sehingga mengalami kesulitan bernafas, wajah merah, gatal-gatal, sampai syok dengan penurunan tekanan darah.

2. Tertunda (delayed) - ini dapat terjadi beberapa jam atau bahkan berhari-hari setelah susu diminum. Gejala termasuk eksim, muntah, diare atau bahkan mungkin asthma. Bayi dapat mengalami gagal tumbuh. Reaksi ini adalah reaksi yang tidak diperantarai IgE. Intoleransi protein susu sapi adalah sebuah contoh dari reaksi ini - kadang-kadang Anda akan melihat darah pada tinja.

- Yang terbaik adalah dengan melihat riwayat perjalanan penyakit setelah mengkonsumsi susu sapi. Jika bayi Anda memiliki reaksi langsung, maka tes tusuk kulit atau tes darah (seperti CAP, EAST, RAST) biasanya akan membantu. Tes ini mendeteksi alergi yang diperantarai IgE.
- Cara lain dengan melihat adanya perbaikan dengan menghentikan susu sapi dan produknya dan gejala timbul kembali setelah susu sapi dikonsumsi kembali. Cara ini disebut eliminasi – reintroduksi. Jika anak Anda telah mengalami reaksi parah terhadap produk-produk susu, reintroduksi harus dilakukan di bawah pengawasan dokter anak.
- Beberapa pusat kesehatan menawarkan uji patch, yang mungkin berguna dalam mendeteksi alergi yang non IgE mediated.

Eliminasi susu sapi harus segera dilakukan dari diet bayi Anda. Bila hal ini sulit, Anda mungkin memerlukan bantuan seorang ahli gizi.
Beberapa bayi yang diberi ASI akan mendapatkan gejala jika ibu mereka mengkonsumsi susu sapi atau produknya dalam makanannya. Dalam kasus ini, sang ibu akan perlu untuk eliminasi produk-produk susu sapi dari diet.

Makanan yang harus dihindari dalam susu sapi alergi meliputi:
• makanan dengan susu sapi atau susu kambing
• keju
• mentega
• susu bubuk
• fraiche krim, krim asam
• whey
• kasein
• margarin
• custard
• laktoalbumin, lactulose, lactoglobulin
• setiap makanan yang mengandung salah satu dari daftar di atas. (MM) baca artikel terbaik lainnya

Hati-hati Pemberian Soya untuki Bayi

Menurut penelitian terbaru mengenai masalah tumor dan kanker, wanita yang berusia 35 – 59 tahun 25% lebih besar terkena tumor rahim ketika bayinya banyak mengkonsumsi susu soya (Susu kedelai) dibanding susu sapi, atau Air Susu Ibu (ASI). Tumor ini sangat membahayakan bagi wanita karena dapat mengakibatkan kemandulan. Penyebabnya adalah karena keberadaan senyawa isoflavon yang tinggi pada soya. Disamping beberapa kasus tertentu, fakta lainnya mengenai mengapa para orangtua memberikan susu soya untuk bayi adalah karena masalah ekonomi akibat mahalnya susu sapi formula. Contoh kasus tertentu, yaitu pada kasus ibu yang tidak dapat menyusui atau bayi yang memiliki masalah elergi susu sapi sehingga banyak dari ibu yang memberikan bayinya susu soya sebagai pengganti. Menurut American Academy of Pediatrics, pemberian susu soya kepada bayi tidak banyak memberikan manfaat. Oleh karena itu, sebaiknya tidak dilakukan mengingat dampak yang bakal ditimbulkan. Beberapa dampak pemberian susu soya untuk bayi antara lain, menimbulkan alergi makanan, masalah bagi pencernaan, kelainan tingkah laku (behavioral problems) karena kandungan enzim phytase pada soya, masalah hormon tiroid, mengurangi kemampuan tubuh menyerap gizi penting (kalsium, magnesium, zat besi, dan zink), penyebab tumor atau kanker, menimbulkan puber dini (early puberty), dan mempengaruhi kesuburan (fertilitas)
Oleh karena itu, jangan terburu-buru memberikan susu soya untuk bayi. Jika harus memberikan susu pengganti selain ASI sebaiknya memilih sumber protein yang mirip dengan struktur protein ASI, yaitu susu formula yang berasal dari sapi, bukan susu formula soya. Namun, kalau bayi yang berusia di bawah 6 bulan ternyata alergi terhadap susu sapi tetap jangan langsung diberikan susu soya. Penggunaan susu soya untuk balita hanya boleh diberikan ketika bayi telah menginjak usia di atas 6 bulan. Hal ini disebabkan karena kandungan protein nabati pada susu soya tidak selengkap jika dibandingkan dengan susu hewani (susu sapi). Disamping itu, susu soya juga tidak mengandung kolesterol yang dalam jumlah kecil sangat dibutuhkan bayi untuk perkembangan organ tubuhnya. (MM) baca artikel terbaik lainnya

Saturday, June 21, 2014

Panduan dan Manfaat Meditasi

Berikut adalah tips sederhana yang dapat meningkatkan pengalaman meditasi Anda:

Duduk tegak. Postur yang tegak membantu pikiran untuk beristirahat. Anda bisa duduk di tanah dengan bantal yang untuk menopang punggung Anda, atau duduk di kursi bersandar tegak. Yang penting adalah menjaga agar tulang belakang Anda tegak tapi santai. Jauh lebih mudah untuk menjaga pikiran Anda tetap terfokus jika Anda berposisi tegak.

Perhatikan secara lembut tubuh Anda. Sangatlah membantu untuk berhubungan dengan tubuh Anda dalam rangka meditasi. Mulai pada kaki Anda dan perlahan-lahan scan tubuh Anda dengan pikiran Anda. Seperti apakah rasanya kaki Anda? Apakah yang Anda rasakan pada kaki Anda? Biarkan perhatian Anda secara perlahan-lahan melalui seluruh tubuh Anda.

Diam. Ketika pertama kali Anda mulai bermeditasi, Anda mungkin merasa gelisah dan mungkin ingin menyesuaikan postur tubuh Anda terus-menerus. sangatlah penting untuk tetap diam secara fisik selama meditasi. Setiap kali Anda bergerak, pikiran Anda aktif. Jadi tetaplah stabil dan diam.

Jadilah hening. Suasana yang  hening membantu Anda untuk menjadi hening di dalam. Dalam budaya Barat, keheningan telah menjadi sesuatu yang langka. Untuk menjadi diam di dalam, pastikan bahwa Anda berada di lingkungan yang tenang. Anda akan bisa menjadi sadar akan pikiran Anda jikalau Anda menjadi diam.

Fokus pada nafas Anda. Berilah perhatian secara lembut pada nafas Anda mengalir masuk dan keluar. Napas Anda adalah pintu untuk menuju keheningan. Perhatikan seperti apa nafas Anda saat terasa di hidung, dada, dan perut.

Lepaskan obrolan batin. Meditasi Kesadaran berarti menjadi sadar akan saat sekarang, tanpa menilai. Perhatikan pikiran Anda datang dan pergi. Ketika Anda menyadari bahwa Anda “terjebak” dalam sebuah dialog batin, secara lembut biarkan cerita itu berlalu.

Bawa perhatian Anda kembali ketika pikiran Anda mengembara. Secara lembut bawalah pikiran Anda kembali ke napas Anda bila pikiran Anda mengembara ke masa lalu atau masa depan. Pikiran kita cenderung mengembara. Itu kondisi alam. Jika Anda melatih diri untuk secara lembut kembali memperhatikan nafas Anda, pikiran Anda akan menjadi mantap. Dan Anda akan dapat membenamkan diri Anda pada saat ini.

Berikut beberapa manfaat yang bisa diambil dari meditasi :

Mengurangi Stres

Penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Health Psychology menunjukkan bahwa meditasi kesadaran dapat menurunkan kadar hormon kortisol, Si Penyebab stres.

Mengenal Jati Diri

Kesadaran diri dapat membantu Anda melihat siapa diri Anda sebenarnya. Sebuah studi dalam

Journal of Psychological Science menunjukkan, kesadaran diri dapat membantu Anda menaklukkan 'sisi gelap' Anda, dan membantu menilai diri Anda secara lebih objektif. Hal ini tentu dapat memperkuat karakter, sehingga Anda dapat mengenal jati diri.

Meningkatkan Kualitas

Peneliti dari University of California, Santa Barbara, menemukan bahwa seseorang yang dilatih dalam meditasi kesadaran memiliki penalaran verbal yang lebih baik. Selain itu, kinerja memori mereka juga lebih optimal. "Hasil penelitian kami menunjukkan bahwa meditasi ini merupakan teknik yang efektif dan efisien untuk meningkatkan fungsi kognitif," jelas para peneliti.

Melindungi Kerusakan Otak

Para peneliti dari University of Oregon menemukan bahwa pelatihan teknik meditasi seperti ini dapat melindungi seseorang dari penyakit mental dan kerusakan otak. Praktik meditasi ini dikaitkan dengan peningkatan sinyal di otak, dan peningkatan jaringan selubung saraf (mielin) di otak. (MM) baca artikel terbaik lainnya

Mempraktekkan Hal-hal Supranatural

Mempraktekkan magic atau hal-hal supranatural tidak akan berdosa sejauh Anda menggunakannya untuk kebaikan dan tidak bersumber dari ‘Yang Jahat’ (roh jahat, setan, iblis, dan mahluk kegelapan lainnya).

Mungkin Anda pernah melihat atau mendengar, para kaum rohaniawan yang mendoakan orang yang sakit, dan orang yang didoakan tersebut perlahan-lahan sembuh. Kesembuhan yang tidak spontan, menandakan bahwa kesembuhan terjadi oleh karena adanya iman, bukan karena faktor turut campur LANGSUNG dari makhluk lain atau Tuhan.  Kesembuhan seperti ini boleh dikata juga karena atas PERIJINAN Tuhan. Jika Tuhan turut campur LANGSUNG, maka kesembuhan akan terjadi secara spontan (langsung sembuh total saat itu juga). Jadi, dengan cara berdoa, para rohaniawan ini telah mempraktekkan magic.

Perlu diingat juga, bahwa kondisi pikiran dan hati Anda juga memancarkan semacam energi ‘gaib’ dimana radiasinya akan mempengaruhi kesehatan Anda, orang-orang, dan makhluk lain di sekitar Anda. Jadi secara tidak sadar Anda juga telah mempraktekkan magic.

.

Mengapakah informasi ini relatif tidak dikenal? Majalah-majalah kedokteran lazimnya menolak, sampai akhir-akhir ini, untuk menerbitkan studi-studi mengenai penyembuhan. Salah satu alasan Benor melakukan tinjauan luas ini ialah untuk mengumpulkan rangkaian penelitian ini menjadi satu buku agar lebih mudah disurvei oleh masyarakat medis.

Temuan-temuan serupa telah dilihat pula pada studi-studi bertutup mata ganda yang dilakukan terhadap manusia. Nampaknya studi-studi bertutup mata ganda terkadang dapat dibelokkan ke arah yang sesuai dengan pikiran serta sikap para penelitinya. Barangkali ini menjelaskan mengapa para peneliti yang skeptis tampaknya tak sanggup mengulang temuan-temuan peneliti yang percaya, dan mengapa “mereka yang percaya sungguh-sungguh” tampaknya lebih mampu membawakan hasil-hasil positif. Keabsahan temuan-temuan percobaan berpuluh-puluh tahun dalam penelitian medis harus dinilai kembali apabila terbukti bahwa pikiran dapat “mengubah data-data ke arah berlawanan.”

Kita harus mempertimbangkan sifat “tak-dapat-diramalkan itu” dalam konteks. Sains menerima banyak fenomena yang sudah menjadi sifatnya tak dapat diramalkan, mulai dari elektron hingga gempa bumi. Kenyataan bahwa saat ini sedang terjadi hujan salju di luar rumah dan bahwa kantor meteorologi tidak meramalkanya, bukanlah berarti bahwa hujan salju itu sekarang tidak terjadi. Demikian juga kenyataan bahwa para penyembuh tidak sanggup bekerja secara teramalkan atau berdasarkan permintaan tidaklah berarti bahwa mereka tak sanggup menyembuhkan. Apa yang menyebabkan sifat tak-dapat-diramalkan tersebut? “Dugaan saya,” kata Benor, “ialah bahwa faktor-faktor yang  berubah-ubah seperti kebosanan, keyakinan dan kebutuhan para peserta membentuk hasil-hasilnya menjadi pola-pola yang teramati tersebut, ditambah dengan berbagai macam faktor luar.”  (MM) baca artikel terbaik lainnya

Delapan Standar Komponen Akreditasi Sekolah Dasar



I. STANDAR ISI

1. KTSP
2. Pengembangan kurikulum
3. 7 Prinsip Pelaksaan Kurikulum
4. Silabus, RPP
5. Pengembangan diri/ekskul
6. Program OSIS dan ekskul
7. BK (Bimbingan Konseling)
8. KKM (Kriteria Ketuntasan Minimum)
9. Minggu efektif
II. STANDAR PROSES
1. Pengembangan Silabus
2. RPP Silabus mapel
3. Notulen rapat
4. Daftar nilai guru
5. Tahun pelajaran
6. Supervisi kunjungan kelas
7. Tindak lanjut hasil pengantar preses pembelajaran (oleh kepsek)

III. STANDAR KOMPETENSI LULUSAN (SKL)

1. Nilai UN dan rata-ratanya
2. Absensi tadarus, sholat jumat, Dhuha, dll
3. Pokja TOGA (tanaman Obat), Peternakan, perikanan
4. Foto setiap kegiatan sekolah
5. LDKS, pesantren Ramadhan, Isra`mi`raj, Maulid
6. OSN, Kopetensi, Jambore Nasioanal, Persami
7. Englis club, sains club, KIR
8. Mading, cerpen, baca puisi, drama
9. Piagam Penghargaan Guru mapun siswa
10.SKHUN, Ijazah, sertifikat

IV. STANDAR TENAGA PENDIDIK

1. Ijazah guru dan TU
2. SK Pembagian tugas Oleh Kepala Sekolah
3. Absensi guru dan Karyawan
4. Notulen raker, rapat dinas, briefing, rapat orang tua
5. Prosentase Kelulusan siswa
6. piagam diklat/perpus
7. Home Visit, KonslingIndividu, BK, konferensi khusus

V. STANDAR SARANA PRASARANA

1. Surat/Sertifikasi Tanah
2. Denah Lokasi sekolah/peta
3. Surat IMB (Izin Mendirikan Bangunan)
4. Set Plan (RKS-Rencana Kerja Sekolah)
5. Daftar Iventaris buku, barang, alat-alat, dll

VI. STANDAR PENGOLAHAN

1. Visi & misi sekolah
2. Kurikulum dan kelengkapannya
3. RENTRA
4. DOkumen 9 K
5. Stuktur Organisasi sekolah
6. Dekumen PPDB, UH, UTS, UAS, US, UN
7. Sertifikat Seminar, Workshop, penataran, diklat
8. Program leb IPA, Komputer, IPS
9. Dokumen Kemitraan : Komite, LPIA, Puskesmas
10.Tata tertib Siswa
11.Monitoring dari pengawas/pejabat berwenang
12.Panitia Akreditasi

VII. STANDAR PEMBIAYAAN

1. RKAS
2. Dokomen Sarpras
3. SPJ (Surat Pertanggungjawaban)

VIII. STANDAR PENILAIAN PENDIDIKAN

1. Teknik penilaian
2. Analisis hasil Penilaian
3. Remedial/Pengayaan
4. Nilai UH, UTS, UU, UAS,UP
5. Kriteria kenaikan kelas (kelulusan)
6. Dekumen Penyerahan SKHUN, Ijazah
7. % Kelulusan
8. Nilai rata-rata UH, UTS, Uu, UN, UAS,UP
(MM) baca artikel terbaik lainnya

Program Guru Pembelajar 2016

Guru pembelajar merupakan program diklat Kemdikbud pasca UKG 2015 lalu dimana masih banyak nilai UKG nya yang di bawah standar. Istilah Guru...