Sunday, June 29, 2014

Media Pembelajaran Pohon Perkalian

Media berasal dari bahasa Latin merupakan bentuk jamak dari  “medium” yang secara harfiah berarti perantara atau pengantar, yaitu perantara atau pengantar sumber pesan dengan penerima pesan (Sudrajat, 2008:1).
Menurut Purnamawati dan Eldarni (dalam Kusumah, 2008:1), media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan minat siswa sedemikian rupa sehingga terjadi proses belajar.
Sejalan dengan pendapat Suyatno (2008:2-11) yang mengemukakan bahwa media adalah alat komunikasi yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran untuk membawa informasi berupa materi ajar dari pengajar kepada peserta didik sehingga peserta didik menjadi lebih tertarik untuk mengikuti kegiatan pembelajaran.
Sadiman (2001:7) mengemukakan bahwa media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang fikiran, perasaan, perhatian dan minat serta perhatian siswa sedemikian rupa sehingga proses belajar dapat terjadi. Pesan yang dimaksud adalah materi pelajaran yang diberikan guru kepada siswa sehingga siswa termotivasi untuk menerima materi pelajaran.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa media merupakan alat perantara untuk menyampaikan ide, pesan dan gagasan. Pesan ini berupa materi pelajaran dari pengirim (guru) kepada penerima pesan (siswa). Karena fikiran, perasaan, perhatian dan minat serta perhatian siswa dapat terangsang sedemikian rupa sehingga proses belajar dapat terjadi.
Brown (dalam Sudrajat, 2008:1) mengungkapkan bahwa media pembelajaran yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran dapat mempengaruhi terhadap efektivitas pembelajaran. Sehingga, seorang guru sebagai sumber belajar seharusnya menyediakan beraneka ragam benda sebagai media instruksional dalam setiap pembelajaran, termasuk pembelajaran Matematika siswa kelas IV yang rata-rata berumur 10-11 tahun karena dalam periode ini termasuk periode konkret. Dengan media konkret, siswa tidak berfikir abstrak lagi dan siswa dapat memahami konsep lebih cepat.
Sikhabuden (dalam Sutarti, 2009:34) mengemukakan tentang prinsip umum yang digunakan sebagai dasar pertimbangan dalam memilih media pembelajaran matematika, di antaranya adalah tujuan, efektifitas, siswa, ketersediaan dan biaya pengadaan. Berikut penjelasan dari prinsip-prinsip dalam memilih media pembelajaran matematika:
1. Tujuan
Media yang akan dipilih hendaknya dapat menunjang pencapaian tujuan pendidikan/ pengajaran yang telah ditetapkan sebelumnya. Sehingga media yang digunakan harus sesuai dengan tujuan pembelajaran. Agar siswa tidak rancuh dalam menerima konsep matematika. Konsep matematika yang diterima siswa harus sama dengan konsep yang diberikan guru.
2. Efektifitas
Dari beberapa alternatif media yang sudah dipilih, mana yang dianggap paling “efektif” untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Artinya media yang digunakan harus disesuaikan dengan materi yang akan diajarkan.
3. Siswa
Apakah media yang dipilih sesuai dengan kemampuan, perbendaharaan pengalaman dan menarik perhatian siswa. Karena banyak media yang diperuntukkan masing-masing usia. Media bagi siswa kelas I tentunya berbeda dengan kelas VI.
4. Ketersediaan
Ketersediaan media ada beberapa alternatif yang dapat diambil yaitu membuat, membeli atau mendapat droppingan dari pemerintah. Seorang guru harus pandai dalam membuat media, tetapi dapat juga dengan membeli bahkan mendapatkan bantuan dari pemerintah. Tetapi, guru yang kreatif tidak menggantung  kepada pemerintah, yaitu membuat media sendiri.
5. Biaya Pengadaan
Bila memerlukan biaya untuk pengadaan media, apakah sudah tersedia biaya? Apakah biaya yang dikeluarkan seimbang dengan manfaat dan hasil penggunaanya? Adakah media lain yang mungkin lebih murah, tetapi memiliki efektifitas yang setara? Dalam membuat media, seorang guru harus memiliki prinsip pengeluaran seminimal mungkin untuk mencapai tujuan semaksimal mungkin.
Ada lima jenis media pembelajaran menurur Nugraha (2008:3-4), yaitu sebagai berikut:
1.Media nonproyeksi; meliputi:
a. Model, yaitu benda nyata yang dimodifikasikan.
b. Bahan grafis, yaitu media visual nonproyeksi yang mudah digunakan karena tidak membutuhkan peralatan dan relatif murah.
2. Media yang diproyeksikan; meliputi:
a. OHT (overhead transparansi), yaitu media yang paling banyak digunakan karena hanya membutuhkan bahan transparansi dan alat tulis.
b. Slide, yaitu media visual yang penggunaannya diproyeksikan ke layar lebar.
3. Media audio, yaitu media yang fleksibel karena bentuknya yang mudah dibawa, praktis, dan relatif murah (misal tape compo, pengeras suara).
4. Media video. Media ini digunakan sebagai alat bantu mengajar pada berbagai bidang studi.
5. Media berbasis komputer. Media ini dapat meningkatkan efektivitas proses pembelajaran yang sangat tinggi karena terjadi interaksi langsung antara siswa dengan materi pembelajaran.
Dari kelima jenis media pembelajaran di atas, media pembelajaran Pohon Perkalian tergolong sebagai media nonproyeksi yang berupa model, karena pada media pembelajaran Pohon Perkalian memiliki ruangan berupa gelas Aqua yang diistilahkan sebagai buah dari pohon. Media pembelajaran ini dapat digambarkan berupa pohon-pohonan yang rimbun. Pohon-pohonan itu memiliki buah yang didalamnya terdapat isi dari buah tersebut. Pohon-pohonan itu juga dapat berupa lukisan pohon yang rimbun pada papan styrofoam berukuran 1 m x 1 m dan sudah diwarna seperti pohon. Buah dari pohon tersebut dapat berupa gelas minuman yang sudah bekas. Isi dari buah dapat berupa kelereng.
Cara menggunakan media pembelajaran Pohon Perkalian tersebut adalah misalnya dalam mengerjakan soal berikut:
1. 2 x 7 = … Siswa memasukkan 7 buah kelereng ke dalam 2 gelas minuman yang sudah bekas.
2. 7 x 2 = … Siswa memasukkan 2 buah kelereng ke dalam 7 gelas minuman yang sudah bekas. (MM) baca artikel terbaik lainnya

Program Guru Pembelajar 2016

Guru pembelajar merupakan program diklat Kemdikbud pasca UKG 2015 lalu dimana masih banyak nilai UKG nya yang di bawah standar. Istilah Guru...