Sunday, June 29, 2014

Menerapkan Sistem Belajar Tuntas di Kelas

Suatu pembelajaran di kelas dikatakan melaksanakan pembelajaran tuntas jika terdapat indikator-indikator sebagai berikut:
1. Metode pembelajaran yang dipakai adalah pendekatan diagnostik preskriptif
Maksudnya adalah pendekatan individual dalam arti meskipun kegiatan belajar ditujukan kepada kelompok siswa (kelas), tetapi mengakui dan melayani perbedaan-perbedaan perorangan siswa sedemikian rupa, sehingga pembelajaran memungkinkan berkembangnya potensi masing-masing siswa secara optimal.
2. Peran guru harus intensif dalam mendorong keberhasilan siswa secara individual.
Hal-hal yang dapat dilakukan oleh guru, misalnya sebagai berikut:
a. Menjabarkan/memecah KID ke dalam satuan-satuan yang lebih kecil.
b. Menata indicator berdasarkan cakupan serta urutan unit.
c. Menyajikan materi dalam bentuk yang bervariasi.
d. Memonitor seluruh pekerjaan siswa.
e. Menilai perkembangan siswa dalam pencapaian kompetensi.
f. Menyediakan sejumlah alternatif strategi pembelajaran bagi siswa yang menjumpai kesulitan.
3. Peran siswa lebih leluasa dalam menentukan jumlah waktu belajar yang diperlukan.
Artinya siswa diberikan kebebasan dalam menetapkan kecepatan pencapaian kompetensi. Kemajuan siswa sangat tertumpu pada usaha serta ketekunan siswa secara individual.
4. Sistem penilaian menggunakan penilaian berkelanjutan yang siri-sirinya adalah:
a. Penilaian dengan system blok.
b. Tiap blok terdiri dari satu atau lebih kompetensi dasar (KD).
c. Hasil penilaian dianalasis dan ditindaklanjuti melalui program remedial, program pengayaan, dan program percepatan.
d. Penilaian mencakup aspek kognitif dan psikomotor.
e. Aspek afektif dinilai melalui pengamatan dan kuesioner.

Motivasi Berprestasi
Sardiman (1987:73) menyatakan bahwa motivasi dapat diartikan sebagai suatu kondisi intern (kesiapsiagaan atau daya penggerak yang telah menjadi aktif.
Sedangkan Wijaya (1979:123) menyakatan bahwa:
a. Motivasi dapat merupakan penjelmaan dari suatu keberhasilan.
b. Proses penggerakan adalah ntuk mengikat motif-motif menjadi perbuatan atau tingkah laku untuk memuaskan kebutuhan yang menjadi tujuan.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1997:317), motivasi adalah usaha yang dapat menyebabkan seseorang atau kelompok orang tertentu bergerak melakukan sesuatu karena ingin mencapai tujuan yang dikehendakinya atau mendapat kepuasan dengan perbuatannya. Sejalan dengan pendapat Witherington dan Filmore yang menyatakan bahwa motivasi berasal dari kata motif yang berarti bahwa tenaga yang menjadi pendorong seseorang untuk berbuat sesuatu guna mencapai suatu tujuan.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas, motivasi dapat dirangsang dari luar dan motivasi diambil dari diri seseorang dalam hal pembelajaran tuntas. Motivasi juga dapat berfungsi sebagai pendorong usaha dalam mencapai prestasi dan intensitas motivasi seorang siswa sangat menentukan tingkat prestasi belajarnya.
Sedangkan prestasi belajar adalah setiap bagian yang telah dilaksanakan sebagai hasil atau output dari suatu kegiatan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1997:314), prestasi adalah hasil yang telah dicapai untuk menunjukkan tekad sebelumya.
Menurut Prayitno (1989:11), siswa yang termotivasi secara intrinsic aktivitasnya lebih baik dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar daripada siswa yang termotivasi secara ekstrinsik. Sedangkan menurut Djiwando (1989:161), motivasi yang paling penting untuk psikologi pendidikan adalah motivasi berprestasi dimana seseorang cenderung untuk berjuang mencapai sukses atau memilih sesuatu kegiatan yang berorientasi untuk tujuan sukses atau gagal. Suryabrata (1986:74) menyatakan bahwa aktivitas-aktivitas yang didorong motivasi intrinsic ternyata lebih sukses daripada didorong oleh motivasi ekstrinsik.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa siswa yang mempuyai motivasi untuk berprestasi akan melakukan kegiatan di dalam belajar mengajar lebih baik daripada siswa yang tidak mempunyai motivasi.

Sistem Pembelajaran Tuntas dapat Menumbuhkan Motivasi Berprestasi Siswa
Sebagian telah dijelaskan sebelumnya motivasi sangat penting dalam proses belajar. Motivasi bukan saja menggerakkan tingkah laku, tetapi siswa yang termotivasi di dalam kegiatan belajar menunjukkan minat, gairah ketekunan yang tinggi di dalam belajar.
Dari pernyataan di atas menimbulkan dugaan bahwa sistem pembelajaran tuntas dapat menumbuhkan motivasi berprestasi pada dasarnya semakin obyektif. Pemberian sistem pembelajaran tuntas pada pelaksanaan kegiatan belajar mengajar semakin tinggi pula untuk motivasi berprestasi pada diri siswa.
Sistem pembelajaran tuntas dan motivasi berprestasi dalam penelitian ini dipandang sebagai hasil pendidikan yang dibina dan dikembangkan melalui proses belajar mengajar dengan pendekatan model sistem pembelajaran tuntas. (MM) baca artikel terbaik lainnya

Program Guru Pembelajar 2016

Guru pembelajar merupakan program diklat Kemdikbud pasca UKG 2015 lalu dimana masih banyak nilai UKG nya yang di bawah standar. Istilah Guru...