Tuesday, July 1, 2014

Mengenal Kesulitan Belajar Siswa

Kesulitan belajar siswa ditunjukkan oleh hambatan-hambatan tertentu untuk mencapai hasil belajar, dan dapat bersifat psikologis, sosiologis, maupun fisiologis, sehingga pada akhirnya dapat menyebabkan prestasi belajar yang dicapainya berada di bawah semestinya.

Kesulitan belajar siswa mencakup pengertian yang luas, diantaranya : (a) learning disorder; (b) learning disfunction; (c) underachiever; (d) slow learner, dan (e) learning diasbilities. Di bawah ini akan dijelaskan dari masing-masing pengertian tersebut.

1. Learning Disorder atau kekacauan belajar adalah keadaan dimana proses belajar seseorang terganggu karena timbulnya respons yang bertentangan. Pada dasarnya, yang mengalami kekacauan belajar, potensi dasarnya tidak dirugikan, akan tetapi belajarnya terganggu atau terhambat oleh adanya respons-respons yang bertentangan, sehingga hasil belajar yang dicapainya lebih rendah dari potensi yang dimilikinya. Contoh : siswa yang sudah terbiasa dengan olah raga keras seperti karate, tinju dan sejenisnya, mungkin akan mengalami kesulitan dalam belajar menari yang menuntut gerakan lemah-gemulai.

2. Learning Disfunction merupakan gejala dimana proses belajar yang dilakukan siswa tidak berfungsi dengan baik, meskipun sebenarnya siswa tersebut tidak menunjukkan adanya subnormalitas mental, gangguan alat dria, atau gangguan psikologis lainnya. Contoh : siswa yang memiliki postur tubuh yang tinggi atletis dan sangat cocok menjadi atlet bola volley, namun karena tidak pernah dilatih bermain bola volley, maka dia tidak dapat menguasai permainan volley dengan baik.

3. Under Achiever mengacu kepada siswa yang sesungguhnya memiliki tingkat potensi intelektual yang tergolong di atas normal, tetapi prestasi belajarnya tergolong rendah. Contoh : siswa yang telah dites kecerdasannya dan menunjukkan tingkat kecerdasan tergolong sangat unggul (IQ = 130 – 140), namun prestasi belajarnya biasa-biasa saja atau malah sangat rendah.

4. Slow Learner atau lambat belajar adalah siswa yang lambat dalam proses belajar, sehingga ia membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan sekelompok siswa lain yang memiliki taraf potensi intelektual yang sama.

5. Learning Disabilities atau ketidakmampuan belajar mengacu pada gejala dimana siswa tidak mampu belajar atau menghindari belajar, sehingga hasil belajar di bawah potensi intelektualnya.

Dari sedikit penjelasan diatas, dirasakan bahwa orangtua perlu mengetahui bentuk kesulitan belajar yang dialami oleh putra/puteri mereka agar lebih mengerti bentuk kesulitan yang putera/puteri mereka hadapi. Banyak orangtua yang juga bertanya dan bingung tentang pendidikan dan prestasi belajar anak, baik di sekolah maupun dirumah.

Bahkan belajar menjadi 4 golongan masalah yang biasanya terjadi pada anak kita. Pada dasarnya seorang anak memiliki 4 masalah besar yang tampak jelas di mata orang tuanya dalam kehidupannya yaitu:

1. Out of Law / Tidak taat aturan (seperti misalnya, susah belajar, susah menjalankan perintah, dsb)
2. Bad Habit / Kebiasaan jelek (misalnya, suka jajan, suka merengek, suka ngambek, dsb.)
3. Maladjustment / Penyimpangan perilaku
4. Pause Playing Delay / Masa bermain yang tertunda

Perlu diketahui juga, awalnya banyak pendapat yang menyatakan keberhasilan anak dan pendidikan anak sangat tergantung pada IQ (intelligence quotient). Namun memasuki dekade 90-an pendapat itu mulai berubah. Daniel Goleman mengungkapkan bahwa keberhasilan anak sangat tergantung pada kecerdasan emosional (emotional intelligence) yang dimiliki. Jadi IQ bukanlah satu satunya yang mempengaruhi keberhasilan anak, masih ada emotional intelligence yang juga perlu diperhatikan.

Ini adalah kemampuan lebih yang dimiliki seseorang dalam memotivasi, ketahanan dalam menghadapi kegagalan, mengendalikan emosi dan menunda kepuasaan serta mengatur keadaan jiwa. Dengan kecerdasan emosional tersebut seseorang dapat menempatkan emosinya pada porsi yang tepat, memilah kepuasaan, dan mengatur suasana hati. baca artikel terkait pengertian belajar

Cara Positif di Tempat Kerja

FOKUS PADA PEKERJAAN YANG DISUKAI
Susun daftar berisi langkah apa saja yang Anda lakukan dalam bekerja. Baris teratas adalah hal-hal yang paling Anda sukai dan yang terbawah adalah tahapan kerja yang paling Anda hindari. Diskusikan dengan atasan apakah Anda diperbolehkan untuk lebih sering melakukan hal-hal yang Anda suka. Misal, bila Anda adalah seorang staf komunikasi, tanyakan apakah Anda boleh melakukan tugas lapangan lebih sering ketimbang melakukan riset di dalam ruangan.
DELEGASIKAN TUGAS
Jika memiliki staf untuk membantu pekerjaan, Anda bisa mendelegasikan tugas-tugas yang tidak terlalu menarik kepada mereka, dan memfokuskan diri pada hal-hal yang lebih Anda sukai. Tapi, lakukan itu hanya jika memang minat Anda berlawanan dengan mereka. Terkadang ada orang yang lebih menyukai tugas bersifat administrasi ketimbang yang memerlukan interaksi dengan orang lain. Begitu pula sebaliknya. Tapi ingat, tugas yang menyenang tidak sama dengan tugas yang ringan. Jangan sampai Anda dicap mau enak sendiri karena hobi melemparkan kerjaan yang berat kepada anak buah.
FROM AND FOR ME
Tidak mungkin Anda bisa terhindar dari tugas yang tidak disukai selamanya. Pasti ada saatnya Anda tidak dapat mendelegasikan pekerjaan tersebut kepada orang lain. Supaya prosesnya lebih menyenangkan, berilah hadiah ada diri sendiri setiap kali Anda sukses melakukan tugas tersebut. Sebungkus cokelat, waktu makan siang yang lebih lama, atau sehelai pakaian dari butik favorit, pasti ampuh untuk memulihkan perasaan Anda setelah tugas selesai.
ATUR WAKTU KERJA
Dalam buku 101 Ways to Love Your Job, Gerard O'Donovan menganjurkan Anda untuk mengatur jadwal kerja menurut prioritas waktu serta berdasarkan besarnya minat Anda terhadapnya. Jika Anda merasa lebih bersemangat di pagi hari, maka kerjakan tugas-tugas yang kurang Anda minati pada saat itu. Dengan demikian, Anda akan lebih cepat menyelesaikannya dan kian lekas pula terbebas dari pekerjaan tersebut. Sebaliknya, ketika semangat mulai meredup, lakukan tugas yang Anda sukai agar gairah kerja membara kembali.
HANGOUT DENGAN REKAN KERJA
Salah satu hal yang mampu membuat seseorang merasa betah dengan pekerjaan yang digelutinya adalah hubungan yang harmonis dengan rekan sekerja. Di luar jam kantor, luangkan waktu untuk nongkrong bareng dan saling mengenal. Tugas seberat apa pun tentunya akan terasa lebih ringan apabila dilakukan bersama teman-teman yang menyenangkan, bukan?
PILAH-PILIH TEMAN
Dekatilah rekan kerja yang selalu memasang tampang happy dan bersikap optimis. Dalam waktu beberapa hari saja, dijamin semangat kerja Anda akan meningkat pesat. Oh ya, jangan terlalu akrab bergaul dengan mereka yang selalu berkeluh kesah dan pesimis dalam menyikapi hidup.
CARI PELUANG
Jika pekerjaan sekarang tidak menarik lagi, mulailah pasang mata dan telinga, siapa tahu ada posisi yang lebih cocok bagi Anda di perusahaan. Jika memang tidak ada, mengapa tidak mencoba mengajukan posisi baru pada atasan. Besar kemungkinan perusahaan akan mengabulkannya asalkan argumentasi Anda kuat dan job description yang ditujukan bagi posisi tersebut memang pas dengan kemampuan Anda.
RAIH KESEMPATAN BELAJAR
Di sela-sela urusan kerja, manfaatkan waktu Anda untuk mengikuti training ataupun konferensi guna meningkatkan ilmu dan kemampuan, memperluas jejaring dan meng-update berita seputar bidang yang Anda geluti. Ada banyak perusahaan yang sudah memiliki jadwal pelatihan rutin bagi karyawan mereka. Menurut Alexander Kjerulf, penulis buku Happy Hour is 9 to 5, jika perusahaan Anda belum memberikan fasilitas tersebut, tak ada salahnya untuk mengajukan diri kepada atasan. Di masa depan,jika Anda berniat untuk pindah, tentunya nilai tawar Anda akan semakin tinggi setelah mengikuti rangkaian kursus tersebut. baca artikel terkait Mencintai Pekerjaan

Program Guru Pembelajar 2016

Guru pembelajar merupakan program diklat Kemdikbud pasca UKG 2015 lalu dimana masih banyak nilai UKG nya yang di bawah standar. Istilah Guru...